PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (Garuda Indonesia) berhasil mengangkut 23,67 juta penumpang selama 2024 atau naik 18,54% dibandingkan sepanjang tahun 2023 yang mengangkut 19,97 juta penumpang. Jumlah ini terdiri dari 11,39 juta penumpang Garuda Indonesia (mainbrand) serta 12,28 juta penumpang Citilink.

Kenaikan jumlah penumpang Garuda Indonesia Group selaras dengan peningkatan frekuensi penerbangan sebesar 12,21% (YoY) dari tahun sebelumnya yang sebanyak 145.500 penerbangan menjadi 163.271 penerbangan. Sampai dengan akhir tahun 2025, Garuda Indonesia memproyeksikan akan memiliki kekuatan alat produksi hingga mencapai 100 armada.

Baca Juga: Laba Tugu Insurance Naik 363% di Awal Tahun

"Kinerja Garuda Indonesia di sepanjang tahun 2024 merefleksikan dinamika industri transportasi udara secara global yang masih menantang. Kondisi makro ekonomi mulai dari isu rantai pasokan (supply chain), dampak fluktuasi selisih kurs, pengaruh geopolitik dan kompetisi yang makin ketat di industri transportasi udara merupakan beberapa tantangan yang dihadapi oleh maskapai penerbangan di seluruh dunia dalam mempertahankan kinerja keuangan positif," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, dikutip Kamis (27/3/2025).

Lebih lanjut dijelaskan, pendapatan usaha Garuda Indonesia secara konsolidasi di sepanjang tahun 2024 tumbuh 16,34% dari sebelumnya US$2,94 miliar menjadi US$3,42 miliar. Pertumbuhan tersebut dikontribusikan secara merata pada seluruh lini pendapatan usaha Garuda Indonesia dengan pendapatan penerbangan berjadwal mencatakan peningkatan sebesar 15,32% menjadi US$2,74 miliar dari tahun sebelumnya sebesar US$2,38 miliar. Pendapatan penerbangan berjadwal tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan angkutan penumpang sebesar US$2,57 miliar (+13,95%) serta angkutan kargo dan dokumen senilai US$164,70 juta (+3,07%).

Sementara itu, pendapatan penerbangan tidak berjadwal mencapai US$333,75 juta atau naik 15,87% dari tahun 2023. Pertumbuhan tersebut salah satunya dikontribusikan oleh angkutan charter yang mencatatkan lonjakan hingga 101,06% menjadi US$106,27 juta, dari tahun sebelumnya sebesar US$52,86 juta.

Adapun aspek pendapatan lainnya turut tumbuh signifikan sebesar 25,79% menjadi US$340,37 juta dibandingkan pada tahun sebelumnya yang ditunjang oleh kinerja anak usaha Garuda Indonesia, di antaranya GMF AeroAsia yang menyumbang pendapatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar US$102,71 juta dengan peningkatan 18,54% YoY; serta Aerowisata yang berhasil mencatatkan pendapatan biro perjalanan sebesar US$40,96 juta, atau meningkat signifikan sebesar 37,12%.

Meskipun terdapat peningkatan signifikan pada aspek kinerja operasional di tahun 2024, Garuda Indonesia masih mencatatkan kerugian bersih sebesar US$69,78 juta yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain, beban usaha yang mengalami kenaikan sebesar 18,32%, salah satunya disebabkan oleh peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat, di mana pada tahun 2024 terdapat beberapa pesawat yang memasuki jadwal perawatan besar (overhaul).

Selain itu di tahun 2024, pendapatan lain-lain─bersih mengalami penurunan drastis hingga 77,39% karena pada tahun 2023 Garuda Indonesia mencatatkan sejumlah extra-ordinary item di antaranya gain from bonds retirement dan pendapatan restrukturisasi Anak Perusahaan, sedangkan transaksi serupa tidak terjadi di tahun 2024. Lebih lanjut, pencatatan pembalikan impairment asset di tahun 2024 mencatatkan jumlah yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sejak akhir tahun 2024 hingga Kuartal I–2025, Garuda Indonesia telah mendatangkan dua pesawat berjenis narrow body tipe Boeing 737-800NG (PK-GUF dan PK-GUG). Mulai Kuartal II–2025 nanti, Garuda Indonesia akan segera mengoperasikan dua pesawat tambahan Boeing 737-800NG, yaitu PK-GUH (MSN44218) dan PK-GUI (MSN-44217) yang saat ini tengah menjalani proses perawatan sebelum beroperasi resmi di jaringan rute domestik maupun rute internasional Garuda Indonesia.

Selaras dengan pertumbuhan jumlah angkutan penumpang, angkutan kargo Garuda Indonesia juga melonjak 34,27% dari 170,93 ribu ton menjadi 229,51 ribu ton di tahun 2024. Pada Garuda Indonesia (mainbrand), angkutan kargo tercatat tumbuh sebesar 35,65%, yakni menjadi 143,12 ribu ton dari sebelumnya 105,50 ribu ton. Angka tersebut dikontribusikan dari angkutan kargo pada rute domestik, yakni 81,35 ribu ton (+26,31%) dan rute internasional 61,77 ribu ton (+50,30%). Selanjutnya, angkutan kargo Citilink juga mencatatkan kinerja positif, yaitu dari sebelumnya 65,43 ribu ton meningkat 32,03% atau menjadi 86,39 ribu ton.

"Dengan fokus optimalisasi pertumbuhan alat produksi secara berkelanjutan yang didukung penuh oleh Pemerintah RI, serta diselaraskan dengan potensi pertumbuhan trafik penumpang pesawat secara global yang diproyeksikan mencapai 9,9 miliar penumpang, kami optimis kinerja Garuda Indonesia dapat tumbuh secara berkelanjutan di tahun 2025," tutup Wamildan.