Lebih lanjut, dr. Ronald menekankan bahwa penanganan kelainan urologi pada anak tidak dapat dilakukan secara terpisah. Dibutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai dokter spesialis, mulai dari fetomaternal, obstetri dan ginekologi, neonatologi, radiologi, urologi anak, bedah anak, hingga rehabilitasi medik.
Pendekatan kolaboratif tersebut memungkinkan perencanaan penanganan dilakukan sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga pemantauan kesehatan anak setelah lahir.
Dengan demikian, orang tua memiliki waktu yang cukup untuk memahami kondisi yang dialami anak serta mempersiapkan langkah penanganan yang tepat.
“Ketika kelainan sudah diketahui sejak dalam kandungan, orang tua memiliki waktu untuk memahami kondisi anaknya, memilih fasilitas kesehatan yang tepat, serta mempersiapkan langkah penanganan sejak awal. Ini akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan jika diagnosis baru diketahui setelah muncul komplikasi,” jelasnya.
Selain membantu menentukan metode dan lokasi persalinan yang sesuai, deteksi prenatal juga memungkinkan dokter memantau perkembangan ginjal, kandung kemih, serta kondisi cairan ketuban yang menjadi indikator penting kesehatan janin selama kehamilan.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan anak sejak dini, dr. Ronald mengingatkan bahwa pemeriksaan kehamilan rutin tidak hanya bertujuan memantau pertumbuhan janin.
Pemeriksaan tersebut juga menjadi kesempatan penting untuk mendeteksi berbagai kelainan bawaan yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup anak di masa depan.
“Tujuan utama kami bukan sekadar melakukan operasi. Yang paling penting adalah menjaga fungsi ginjal anak tetap optimal sepanjang hidupnya. Dengan deteksi dini, monitoring yang tepat, dan kolaborasi multidisiplin, banyak anak dapat tumbuh sehat dan terhindar dari komplikasi serius di kemudian hari,” tutup dr. Ronald.