Film keluarga terbaru dari Visinema Studios, Na Willa, sukses mencuri perhatian publik. Digarap oleh para kreator di balik JUMBO, film ini telah ditonton lebih dari 150 ribu penonton dan menjadi salah satu tontonan favorit keluarga Indonesia selama momen libur Lebaran.
Tak sekadar menghibur, Na Willa menghadirkan refleksi mendalam tentang pola asuh anak yang hangat dan mendidik.
Film ini dipuji karena mampu menyentuh dua sisi sekaligus, yakni menjadi hiburan menyenangkan bagi anak-anak sekaligus bahan renungan bagi orangtua dalam menjalani peran mereka.
Apresiasi datang dari penulis, produser, sekaligus sutradara peraih tiga Piala Citra FFI, Gina S. Noer. Ia menilai Na Willa sebagai karya sinematik yang memikat secara visual maupun emosional.
“Ceritanya, magisnya, indahnya, detil cantiknya, suara dan lagu musiknya sungguh dibuat untuk pengalaman bersinema di bioskop,” ungkap Gina.
Menurutnya, film ini semakin menegaskan kualitas sang sutradara, Ryan Adriandhy, sebagai pencerita yang tulus dan andal. Ryan sebelumnya dikenal sukses lewat film JUMBO yang juga menyentuh hati banyak penonton.
“Dia mencintai sinema sama seperti ia mencintai dunia anak-anak. Bersama dua produser andal Indonesia, Anggia dan Novi, eksplorasi dan keyakinannya pada dua dunia ini telah membawa Indonesia mendapatkan keajaiban di layar lebar,” lanjut Gina.
Lebih jauh, Gina melihat Na Willa sebagai ruang refleksi bagi anak dan orangtua untuk memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Ia menggambarkan film ini sebagai “surat cinta” bagi orang dewasa yang tengah menjalani fase pertumbuhan emosional.
“Pada suatu waktu, bila kamu menjadi orangtua, ada semacam duka dan kekhawatiran melihat anak-anak yang amat ingin kita lindungi harus menjadi kupu-kupu di dunia yang kita tahu tak selamanya indah. Kita tahu lebih dahulu kepahitan ini, tetapi anak kita keras kepala ingin mencicipinya sendiri,” ungkapnya.
Baca Juga: Film Na Willa Tayang Lebaran, Angkat Kisah Masa Kecil di Surabaya Era 1960-an
Pandangan serupa juga disampaikan oleh psikolog anak usia dini, Aninda. Ia menyoroti kuatnya pesan parenting dalam karakter Mak yang diperankan oleh Irma Rihi, serta karakter Na Willa yang dimainkan oleh Luisa Adreena.
Menurut Aninda, karakter Na Willa digambarkan sebagai anak yang ceria, aktif, dan penuh rasa ingin tahu. Sementara itu, sosok Mak menjadi representasi orangtua yang tidak hanya hadir sebagai ibu, tetapi juga sebagai pendidik utama bagi anak.
“I can relate kenapa Mak bisa disiplin tapi juga hangat, kenapa Mak ingin selalu melindungi, kenapa Mak selalu berupaya menjadi guru pertama bagi Na Willa. I can see Mak in me; I was once like Mak when the first time I stepped on motherhood. But then, just like Mak, I learned so many things from this journey,” terang Aninda.
Aninda menambahkan bahwa film ini menampilkan pola authoritative parenting, yakni pendekatan pengasuhan yang mengedepankan kehangatan sekaligus batasan yang jelas.
“Dampak dari authoritative parenting adalah kemampuan anak untuk memahami batasan tanpa mengabaikan emosinya. Hal inilah yang membuat Na Willa mampu berkembang dengan lebih baik. Karena Mak juga hadir dengan lebih baik, tidak sekadar menjadi ibu, tetapi juga menjalankan banyak peran, termasuk sebagai guru,” jelasnya.
Respons positif juga datang dari penonton. Salah satunya akun X @hakam1 yang menilai film ini lebih dari sekadar tontonan anak-anak.
“Kisah Na Willa yang terfragmentasi itu pada akhirnya adalah ujian-ujian kecil untuk Mak menjadi orangtua yang lebih baik. Ini memang film yang lebih cocok buat orangtua, supaya kita bisa kembali melihat dunia lewat kacamata anak-anak yang jujur dan apa adanya,” tulisnya.
Ia juga menyoroti transformasi karakter Mak sebagai inti cerita. “Film ini menekankan soal kejujuran, bahwa orangtua mungkin kurang menghargai kejujuran anak-anak. Pada akhirnya, transformasi karakter justru terjadi pada Mak,” lanjutnya.
Dengan pesan yang kuat dan pendekatan cerita yang hangat, Na Willa menjadi pilihan tepat untuk mengisi waktu bersama keluarga di momen Lebaran.
Film ini mengajak penonton untuk tidak hanya tertawa dan terhibur, tetapi juga belajar memahami dinamika hubungan orangtua dan anak dengan lebih dalam.