Film keluarga Na Willa hadir sebagai adaptasi dari buku karya Reda Gaudiamo dengan judul yang sama. Film ini mengangkat kisah seorang anak perempuan berusia sekitar lima hingga enam tahun yang tumbuh di sebuah gang di Surabaya pada era 1960-an.
Lewat cerita sederhana tentang rasa ingin tahu, persahabatan anak-anak, dan imajinasi yang kaya, film ini mengajak penonton untuk kembali mengingat bagaimana rasanya melihat dunia dari sudut pandang seorang anak kecil.
Film Na Willa disutradarai oleh Rian Adriandhy dan diproduksi oleh Visinema Pictures. Karakter utama Na Willa diperankan oleh aktris cilik Luisa Adreena yang menghadirkan sosok gadis kecil penuh rasa ingin tahu serta imajinasi yang tak terbatas.
Dalam proses produksinya, tim kreatif berupaya menghadirkan kembali atmosfer Surabaya pada era 1960-an melalui desain produksi, kostum, hingga detail kehidupan kampung. Berbagai elemen tersebut menggambarkan interaksi hangat antarwarga serta dunia bermain anak-anak pada masa itu.
Rian Adriandhy menjelaskan bahwa gagasan utama film ini bukan sekadar menghadirkan nostalgia masa kecil, tetapi juga menghidupkan kembali cara pandang anak-anak yang penuh rasa ingin tahu. Menurutnya, masa kecil memiliki kesederhanaan yang kerap terlupakan ketika seseorang beranjak dewasa.
“Aku hanya bilang film ini terasa sebagai pengingat. Sebuah pengingat bahwa pernah ada masa, pernah ada usia yang kita hidupi dulu ketika segalanya terasa lebih sederhana. Kita punya rasa ingin tahu yang jauh lebih besar,” ujar Rian dalam Press Conference dan Press Screening di XXI Epicentrum pada Selasa (10/03/2026).
Ia menambahkan bahwa melalui karakter Na Willa, penonton diajak kembali melihat dunia yang dipenuhi imajinasi serta pertanyaan-pertanyaan polos khas anak-anak.
Cerita film ini berpusat pada Na Willa, seorang gadis kecil yang tinggal di lingkungan gang dan gemar melakukan berbagai “petualangan kecil” bersama teman-temannya. Mulai dari membongkar radio karena penasaran ingin tahu siapa yang bernyanyi di dalamnya hingga bermain kelereng bersama sahabatnya, keseharian tersebut menggambarkan dunia anak yang penuh eksplorasi.
Perjalanan masa kecil Willa juga diwarnai perubahan. Ketika teman-temannya mulai memasuki usia sekolah dan kehidupan mereka perlahan berubah, Willa harus belajar menghadapi realitas baru, termasuk memahami arti kehilangan dan proses bertumbuh.
Rian menilai momen-momen kecil seperti itu justru menjadi inti dari cerita film ini. Baginya, pengalaman sederhana yang dialami anak-anak sering kali menyimpan makna yang mendalam bagi kehidupan.
Baca Juga: Pemain Film 'Pelangi di Mars' Ajak Anak Berani Bermimpi sejak Dini
“Ketika kita dewasa, kita sering kehilangan rasa ingin tahu itu. Padahal saat anak-anak, kita selalu melihat dunia sebagai sesuatu yang baru dan menarik,” katanya.
Bagi penulis buku aslinya, Reda Gaudiamo, melihat cerita yang awalnya ia tulis berkembang menjadi film layar lebar merupakan pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia mengatakan, kisah Na Willa pada awalnya hanya berangkat dari cerita sederhana tentang kehidupan anak-anak di lingkungan tempat tinggal.
“Saya tidak pernah membayangkan bahwa Na Willa akan berjalan sampai sejauh ini. Bahkan ketika pertama kali menulisnya, saya hanya ingin menampilkannya di blog. Ketika kemudian menjadi buku saja sudah menjadi kegembiraan tersendiri. Lalu dicetak ulang, bahkan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan di Inggris, itu sudah sangat menyenangkan. Tapi tiba-tiba Na Willa keluar dan menjadi makhluk hidup, menjadi anak yang benar-benar hidup. Rasanya itu beyond my expectation,” ungkap Reda.
Selain menyoroti kehidupan anak-anak, film Na Willa juga menghadirkan latar Surabaya tahun 1960-an dengan suasana kampung yang hangat dan penuh interaksi sosial. Lingkungan gang, permainan tradisional, hingga dinamika persahabatan menjadi elemen penting yang membangun atmosfer cerita.
Melalui pendekatan tersebut, para pembuat film berharap Na Willa tidak hanya menjadi tontonan keluarga, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi orang dewasa untuk kembali mengingat masa ketika dunia terasa lebih sederhana.
“Kadang kita perlu diingatkan bahwa kita semua pernah menjadi anak-anak,” kata Rian, “dan mungkin, ada banyak hal dari masa itu yang masih kita rindukan dan ternyata tetap relevan dengan kehidupan kita sekarang.”