Bayu Skak kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Foufo yang mulai tayang di bioskop pada 9 Juli 2026. Film produksi Skak Studios dan Sinemart tersebut mengusung genre komedi sci-fi dengan balutan humor absurd serta drama keluarga yang mengharukan, sekaligus menjadi salah satu proyek paling berani dalam perjalanan karier Bayu. 

Di film Foufo, Bayu Skak melakukan pendekatan yang berbeda. Setelah sukses mengeksplorasi cerita dengan latar dan dialog berbahasa Jawa, kini Bayu dengan berani menampilkan bahasa Madura secara dominan, dan menjadi yang pertama kalinya untuk film layar lebar di Indonesia.

Untuk menggarap film Foufo, diakui Bayu menjadi salah satu produksi film yang paling rumit dan berat. Sebab, di film ini tak hanya mengangkat tentang drama keluarga Madura yang kuat dengan budaya dan cerita manusianya, tetapi juga teknologi yang digunakan.

Foufo adalah project-ku yang paling berani. Karena ada alien, tentunya kami menggunakan CGI, dan itu ternyata susah banget. Kami melibatkan ratusan animator untuk membuat karakter alien dan pesawat UFO-nya. Kalau dibandingkan dengan project-project-ku sebelumnya, ini bikinnya rumit. Melibatkan alat-alat berat termasuk saat bawa UFO-nya ke lokasi syuting,” ujar Bayu Skak seperti dikutip dari rilis yang diterima Olenka, Senin (13/7/2026).

Baca Juga: Profil Bayu SKAK, Perjalanan Karier dari YouTuber hingga Sutradara Film

Hal itu dilakukan Bayu karena dirinya ingin keluar dari zona nyaman dan menghadirkan sesuatu yang berbeda di perfilman Indonesia. Dengan kombinasi genre sci-fi, alien, dan kultur Madura, diharapkan film ini membawa warna baru.

Tak hanya mengandalkan teknologi canggih, Bayu juga menunjukkan effort-nya lewat open casting yang melibatkan 2.500 peserta saat mencari calon pemain film Foufo. Hasilnya, banyak dari para pemain film ini merupakan pemain debutan yang berasal dari Madura dan Jawa Timur, dan bahkan bukan aktor profesional.

“Ini membuktikan bahwa ketika kita yang ada di daerah diberikan kesempatan, kita juga bisa. Kesempatan itu dari dulu jauh banget kan, adanya cuma di Jakarta. Tapi kami ingin memberikan kesempatan ke teman-teman di daerah, dengan open casting di Surabaya Utara saat itu. Dan jebolan-jebolan casting itu sekarang menjadi jajaran pemain di film Foufo,” cerita Bayu.

Baca Juga: Debut Jadi Pemeran Utama di Film ‘Foufo’, Ini Dia Sosok dan Jejak Karier Tretan Muslim

Selain jajaran pemeran yang merupakan debutan dan memberikan kesempatan untuk teman-teman di daerah, film Foufo juga memberikan kesempatan untuk generasi baru perfilman Indonesia. Penulis skenario film ini, Ahmad Faishol, pertama kalinya menulis naskah untuk film panjang bioskop di film Foufo, sejak ia menyelesaikan studi di kampus film.

“Ini panggungnya kita semua sebagai orang daerah. Aku di sini bilang sebagai orang Jawa dan film ini kan mengangkat budaya dan bahasa Madura. Ini film berbahasa Madura tapi campur, ada bahasa Jawa, Madura, yang juga ada di Jawa Timur. Kalian yang nggak berbahasa Madura, jangan khawatir, karena ada subtitle,” tambah Bayu.