Dee Company menghadirkan film horor-komedi Cek Khodam yang akan mulai tayang 16 Juli 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Diadaptasi dari fenomena viral 'cek khodam' di media sosial, film garapan sutradara Jeropoint ini mengangkat sudut pandang berbeda terhadap genre horor.
Dalam hal ini, film Cek Khodam memotret bahwa masyarakat modern kini lebih takut pada persoalan kesulitan ekonomi daripada kemunculan makhluk gaib yang telah menjadi urban legend di Indonesia, seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, hingga hantu none Belanda.
Mengusung konsep yang segar, Cek Khodam membalik pakem film horor pada umumnya. Jika biasanya manusia dibuat takut oleh hantu, kali ini justru para penghuni dunia khodam yang panik karena manusia mulai kehilangan rasa takut terhadap mereka. Produser Dee Company, Dheeraj Kalwani, mengatakan ide tersebut lahir dari fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus berkembang pesat di media sosial.
Baca Juga: Jirayut Resmi Debut di Bioskop Lewat Film Horor Komedi Terinspirasi Fenomena 'Cek Khodam'
"Kami melihat hal ini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari dan mengembangkannya menjadi sebuah horor komedi yang segar, lucu, dan relate dengan masyarakat saat ini. Menurut kami, hal ini juga yang menjadi pembeda dari film horor pada umumnya," ungkap Dheeraj Kalwani dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/6/2026).
Dheeraj menambahkan, film Cek Khodam juga ingin menggambarkan perubahan bentuk ketakutan masyarakat saat ini dalam konsep yang menghibur.
"Cek Khodam mengangkat ketakutan manusia modern di era sekarang. Bukan lagi soal penampakan, tetapi soal cicilan, dompet kosong, hingga tanggal tua," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Jeropoint selaku sutradara menyebutkan bahwa inspirasi alur cerita film Cek Khodam ini ia dapatkan dari pengamatannya sebagai konten kreator. Ia melihat perubahan cara masyarakat merespons hal-hal berbau mistis di era media sosial.
"Dulu kalau melihat setan orang akan lari ketakutan. Sekarang justru banyak yang mengambil kamera lalu membuat konten. Dari situ muncul ide untuk film ini," tegas Jeropoint.
Film ini juga menjadi pengalaman pertama Jeropoint menggarap horor-komedi setelah sebelumnya menyutradarai film horor seperti Jalan Pulang (2025) dan Tumbal Proyek (2026). Ia mengaku menikmati proses produksi karena didukung suasana syuting yang penuh kebersamaan.
"Ini debut saya di genre komedi dan bisa dibilang proses syuting yang paling menyenangkan. Semua pemain sangat suportif sehingga suasananya selalu terasa menyenangkan," katanya.

Sinopsis
Film horor komedia Cek Khodam mengisahkan tiga orang sahabat, yakni Sakti (Jirayut), Wira (Saputra Kori), dan Bima (Benidictus Siregar) yang aktif melakukan live di media sosial bertajuk 'cek khodam' untuk menghibur masyarakat. Tanpa disadari, konten mereka justru membuat Angka Ketakutan Manusia (AKM) terhadap dunia gaib terus menurun hingga memicu krisis di dunia khodam.
Situasi tersebut memaksa Panglima Khodam beserta para penghuni dunia gaib turun tangan demi mengembalikan rasa takut manusia. Namun, berbagai upaya yang dilakukan justru berujung pada kekacauan yang memicu deretan peristiwa lucu sekaligus menegangkan.
Film ini turut menghadirkan beragam karakter gaib dengan kepribadian unik, mulai dari Noni Belanda, Genderuwo, Pocong Karuhun, hingga sejumlah penghuni dunia khodam lainnya. Alih-alih sekadar menakut-nakuti manusia, mereka digambarkan sedang berjuang mempertahankan eksistensi dunia mereka.
Selain menawarkan konsep cerita yang berbeda, Cek Khodam juga menjadi debut film layar lebar bagi Jirayut. Dheeraj optimistis kehadiran penyanyi dan presenter tersebut akan menjadi salah satu daya tarik film. Melalui perpaduan komedi, horor, dan satire sosial, Cek Khodam tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga merefleksikan realitas kehidupan masyarakat urban yang kini lebih dibayangi persoalan finansial dibandingkan ketakutan terhadap makhluk halus.