Sunil meenuturkan, pemilihan lokasi bukan dilakukan untuk sekadar mengikuti tren wisata, melainkan karena kebutuhan cerita. Lokasi yang digunakan juga masih dirahasiakan dan disebut memiliki ekosistem bawah laut maupun daratan yang belum banyak dijelajahi.

“Cerita 5cm itu selalu ada unsur Indonesia, unsur alam, dan unsur persahabatan. Nah ini lokasinya yang dipilih masih rahasia sekarang. Tapi memang tempat-tempatnya baru, belum terlalu dijelajahi mungkin ya. Memang kita mencari ekosistem underwater dan ekosistem di atasnya segala macam. Ini yang paling cocok,” ujar Sunil.

Menurut Sunil, hubungan antara lokasi dan cerita menjadi salah satu pertimbangan utama dalam produksi film ini. Karena itu, lokasi tidak ditempatkan sekadar sebagai latar visual, tetapi menjadi bagian dari kebutuhan narasi.

“Jadi kita enggak memisahkan lokasi dengan cerita, ceritanya membutuhkan lokasi ini makanya kita memilih lokasi ini,” ungkap Sunil.

Pengambilan gambar di laut juga menghadirkan tantangan produksi yang berbeda dibandingkan film sebelumnya. Salah satunya adalah adegan badai di tengah laut yang membutuhkan persiapan fisik, teknis, dan logistik lebih kompleks. Kondisi cuaca juga menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan selama proses syuting.

“Kalau laut sangat berbahaya karena laut itu luas dan kami juga ada adegan badai dan lain-lain di tengah laut dan syutingnya itu dengan cuacanya cukup sulit ya. Kalau budget mungkin di laut mungkin lebih ya,” tambah Sunil.

Untuk menghadirkan adegan laut dengan nuansa realistis, tim produksi juga tidak sepenuhnya mengandalkan teknologi CGI. Mereka menggabungkan pengambilan gambar di laut dengan penggunaan water tank berukuran besar yang dilengkapi sistem hidrolik untuk menciptakan ombak buatan.

“Kita sama Mas Emil mungkin merasa bahwa kita nggak terlalu suka CGI gitu. Jadi apa yang kita buat adalah tiga kombinasi. Pertama kita syuting laut, kedua kita bangun water tank dengan sistem hidrolik untuk ombak. CGI-nya hanya untuk menambah hal-hal yang waktu itu tidak bisa dicapai secara manual,” papar Sunil.

Besarnya tantangan produksi tersebut juga membuat biaya pembuatan film kali ini disebut lebih besar dibandingkan film sebelumnya. Jika pendakian gunung membutuhkan kesiapan fisik dan stamina para pemain serta kru, produksi di laut memiliki risiko yang berbeda karena kondisi alam yang lebih sulit diprediksi.

Selain persiapan teknis, para pemain juga menjalani proses pengembangan karakter secara intensif. Reading dilakukan selama sekitar tujuh hingga delapan bulan untuk membangun kedekatan antarpemain sekaligus memperkuat dinamika persahabatan yang menjadi bagian penting dalam cerita.

Sunil mengatakan, proses tersebut diperlukan agar hubungan antarkarakter tidak terasa dibuat-buat ketika ditampilkan di layar.

“Para pemain menjalani proses untuk membangun hubungan dan kedekatan antarkarakter. Hal ini dilakukan agar dinamika persahabatan dalam film terasa lebih natural,” kata Sunil.

Nah Growthmates, dengan menggabungkan kisah persahabatan, perjalanan masa remaja, alam, serta kehidupan masyarakat Indonesia, 5cm: Revolusi Hati membawa cerita yang masih memiliki keterkaitan dengan semesta film sebelumnya, tetapi dengan latar dan pendekatan yang berbeda.

Film ini juga akan menghadirkan soundtrack dengan konsep baru. Meski detailnya belum diumumkan, jajaran musik tersebut disiapkan untuk melengkapi perjalanan para karakter dalam film.

Adapun, film 5cm: Revolusi Hati ini dijadwalkan tayang di bioskop pada akhir 2026.

Baca Juga: Tembus 3 Juta Penonton, 'Jangan Buang Ibu' Masuk 3 Besar Film Indonesia Terlaris 2026