Festival Jajanan Bango (FJB) 2026 kembali digelar dengan menghadirkan lebih dari 50 kreasi kuliner yang memadukan cita rasa autentik Nusantara dengan sentuhan modern.
Melalui festival yang berlangsung di pusat kota pada akhir ini, Bango sebagai brand kecap legendaris Indonesia mengajak generasi muda untuk mengeksplorasi kecap manis dalam berbagai kreasi makanan yang inovatif dan sesuai dengan perkembangan tren kuliner.
Mengusung semangat "there's more to taste", FJB 2026 berlangsung di Hutan Kota GBK Senayan, Jakarta selama dua hari berturut-turut, yakni pada 24-25 Oktober 2026. Festival yang telah diselenggarakan sejak 2005 ini mengusung konsep Culinary Culture Playground, yang mempertemukan makanan, budaya, kreativitas, hiburan, dan gaya hidup dalam satu pengalaman.
Director of Communication, Corporate Affairs, Sustainability Unilever Indonesia, Nurdiana Darus, mengatakan bahwa Festival Jajanan Bango hadir sebagai salah satu upaya perusahaan untuk mendukung perkembangan kuliner Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan cita rasa Nusantara kepada masyarakat luas.
“Sebagai brand kecap yang telah ada selama lebih dari 98 tahun di Indonesia, Bango secara konsisten mendukung perkembangan kuliner Indonesia dengan melibatkan seluruh masyarakat agar dapat lebih mengenal, mencintai, hingga terdorong untuk ikut mendorong kemajuan kekayaan kuliner kita,” pungkas Nurdiana dalam pembukaan FJB 2026, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Nurdiana menjelaskan, setiap tahun penyelenggaraan FJB, Bango senantiasa menghadirkan kegiatan kuliner yang relevan dengan perkembangan industri makanan dan minuman. Tahun ini, pendekatan tersebut diwujudkan melalui semangat baru yang mendorong masyarakat melihat kecap dari perspektif yang lebih luas.
“Untuk membuka lebih banyak kemungkinan baru dengan kecap, dengan mengajak generasi muda mengeksplorasi, bereksperimen serta menemukan inspirasi baru dalam menikmati cita rasa Indonesia,” tambahnya.
Ajak Generasi Muda Eksplorasi Kreasi Kuliner Berbasis Kecap
Dalam kesempatan yang sama, Nuning Wahyuningsih selaku Head of Marketing Foods Unilever Indonesia mengatakan bahwa perubahan gaya hidup dan perkembangan tren kuliner membuka peluang bagi kecap manis untuk menjangkau konsumen generasi muda melalui pendekatan yang berbeda.

Kuning menilai, kecap manis selama ini kerap diasosiasikan dengan hidangan tradisional yang membutuhkan proses memasak cukup panjang. Padahal, bahan tersebut memiliki potensi untuk digunakan dalam berbagai kreasi makanan yang lebih beragam.
Baca Juga: Padukan Kuliner Lokal dan Modernitas, Foodtruck Jajanan Bango Siap Hadir di 13 Kota di Indonesia
“Buat orang Indonesia, kecap itu tradisi. Jadi kadang mungkin ada image yang melekat bahwa kecap itu cuma cocok untuk makanan-makanan yang memang bagian dari tradisi,” jelas Nuning dalam sesi konferensi pers FJB 2026.
Dengan kondisi tersebut, lanjutnya, tantangan yang dihadapi industri kuliner saat ini adalah bagaimana mempertahankan karakter rasa lokal sekaligus menyesuaikannya dengan preferensi generasi muda yang semakin terbuka terhadap pengalaman kuliner baru.
Nuning mengungkapkan, berdasarkan riset Jakpat pada 2025 sekitar 77% Gen Z masih memilih cita rasa lokal sebagai bagian dari pengalaman kuliner mereka. Temuan tersebut menunjukkan bahwa di tengah derasnya pengaruh tren global, kuliner Indonesia tetap memiliki daya tarik bagi konsumen muda.
Menurut Nuning, kondisi tersebut menjadi peluang bagi kecap manis untuk terus relevan dengan perubahan selera konsumen. Inovasi dapat dilakukan melalui pengembangan resep, cara memasak, hingga perpaduan bahan yang lebih sesuai dengan gaya hidup modern.
“Makanya mungkin aspirasi dari Bango itu adalah pengen membawa kembali kecap untuk tidak terpaku dengan masa lalu. Tapi memang kita bisa menjadi jembatan masa lalu, masa sekarang dan juga membuka wacana ke generasi muda,” kata Nuning lagi.
Ia menambahkan, melalui semangat there's more to taste, Bango berharap dapat mendorong generasi muda memandang kecap manis sebagai bahan yang fleksibel untuk berkreasi, bukan hanya pelengkap hidangan tertentu.
“Kami ingin menjadikan kecap manis itu ibaratnya sebagai canvas. Kalau canvas itu kanbisa ditambah-tambahin, bisa dimodifikasi, bisa dikombinasikan,” kata Nuning.
Dengan kata lain, eksplorasi yang dilakukan tersebut diharapkan dapat melahirkan berbagai kreasi baru yang tetap mempertahankan karakter kuliner Indonesia meskipun dipadukan dengan pengaruh dari budaya lain.
“Saya rasa generasi muda Indonesia itu sangat kreatif. Terbukti, tiap ke mana pun saya pergi, tiap weekend kayaknya ada tempat baru, masakannya juga baru, menunya juga baru, penyajiannya juga baru, ceritanya juga baru. Jadi banyak sekali yang bisa dieksplor,” lanjutnya lagi.
Senada dengan Nuning, Nex Carlos yang dikenal sebagai food vlogger ternama ini menilai bahwa perkembangan kuliner saat ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan makan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan cara masyarakat mengeksplorasi pengalaman baru.
Dia mengaku senang mencoba berbagai makanan dengan rasa dan konsep berbeda, termasuk kreasi kuliner lokal yang berinovasi mengikuti tren.
“Sekarang makanan sudah bukan cuma soal taste, tapi benar-benar jadi bagian dari lifestyle, bahkan jadi bagian dari orang untuk bereksplorasi,” nilai Nex Carlos.
Maka dari itu, tambahnya, inovasi menjadi penting bagi pelaku usaha kuliner lokal untuk mempertahankan daya tarik produk di tengah persaingan dengan makanan yang terinspirasi dari tren global.
Meski demikian, dia menilai kuliner Indonesia tetap memiliki keunggulan dari sisi cita rasa autentik dan kedekatan emosional dengan masyarakat.
Nex Carlos juga mengapresiasi pelaku usaha yang terus mengembangkan produk tanpa meninggalkan karakter asli makanan Indonesia. Menurut dia, inovasi dapat menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kuliner lokal kepada konsumen yang lebih muda.
“Saya senang juga sama kuliner-kuliner lokal yang mencoba inovasi,” ujarnya.
Ia berharap, kreasi baru tersebut dapat membuat makanan Indonesia semakin dikenal dan tetap menjadi pilihan masyarakat di tengah beragamnya tren kuliner.
“Bagaimanapun caranya kuliner Indonesia tuh harus tetap merajai. Apalagi di negeri sendiri,” kata Nex Carlos.
Pandangan yang sama juga disampaikan oleh Marketing Manager Cimol Bojot AA, M. Handry N. Haq. Sebagai pelaku industri, jelasnya, Cimol Bojot AA menilai bahwa perubahan selera konsumen mendorong pelaku usaha kuliner untuk terus berinovasi. Hal ini terutama dirasakan ketika pasar semakin dipengaruhi oleh tren yang berkembang di media sosial.
“Anak muda ini kan memang sebenarnya adventurous. Mereka penasaran sama kuliner-kuliner yang baru dan juga mungkin sama hal-hal yang berbau inovasi,” ungkap Handry.
Menurutnya, kuliner Indonesia memiliki ruang eksplorasi yang luas. Pelaku usaha perlu memanfaatkan potensi tersebut dengan mengembangkan produk yang sesuai dengan karakter pasar tanpa kehilangan identitas makanan yang ditawarkan.
“Jadi sebenarnya kalau dari kita sendiri, di Cimol Bojot AA juga gitu, sebagai makanan yang memang dikenal asli di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, kita terus berkreasi. Kita terus berkreasi, kita terus mengikuti tren,” katanya.
Dia menambahkan, perubahan preferensi konsumen membuat pelaku usaha harus lebih adaptif dalam menentukan produk dan strategi pengembangan bisnis.
“Mungkin tadinya market kita lebih banyak ke milenial, ke Gen Z, dan itu akhirnya mengubah selera. Akhirnya kita sebagai brand juga harus tetap mengikuti tren dan juga selera market saat ini,” ujarnya.
Dalam FJB 2026, Cimol Bojot AA membawa menu khusus bertajuk Cimol misdasem dengan cita rasa yang memadukan manis, pedas, dan asam. Kreasi tersebut juga menjadi bagian dari eksplorasi menu baru yang dikembangkan untuk lini Pasundan Series.
Kehadiran menu tersebut memperlihatkan bagaimana jajanan lokal dapat dikembangkan melalui eksperimen rasa untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.