Growthmates, nama Elon Musk kembali menjadi pusat perhatian publik setelah memberikan dukungan kuat terhadap sebuah buku kontroversial karya akademisi Kanada, Gad Saad, berjudul Suicidal Empathy: Dying to Be Ki
Lewat unggahan di platform X, Musk menyebut buku tersebut sebagai bacaan yang sangat penting. Bahkan, ia menulis kalimat yang langsung memicu perdebatan luas di media sosial.
“Bacalah buku ini dan berikan kepada semua teman Anda. Kelangsungan hidup peradaban bergantung padanya!,” tulis Musk.
Pernyataan Musk itu muncul sebagai respons atas unggahan Saad yang mengumumkan bahwa bukunya berhasil menempati posisi kedua dalam daftar rilisan baru terlaris di Kanada.
Namun, perhatian publik tidak hanya tertuju pada capaian penjualannya, melainkan juga pada gagasan besar yang dibawa buku tersebut ‘apakah empati yang berlebihan justru bisa menjadi ancaman bagi masyarakat modern?’
Ketika Empati Dinilai Bisa Menjadi Bumerang
Dikutip dari Times Now News, Rabu (20/5/2026), dalam Suicidal Empathy: Dying to Be Kind, Gad Saad mengembangkan gagasan yang sebelumnya ia bahas dalam buku The Parasitic Mind.

Ia berargumen bahwa masyarakat Barat sedang menghadapi masalah serius akibat apa yang ia sebut sebagai empati irasional atau ‘empati bunuh diri’,bentuk belas kasih yang dinilai kehilangan batas, logika, dan pertimbangan jangka panjang.
Menurut Saad, budaya modern terlalu sering menempatkan kenyamanan emosional di atas ketertiban sosial, mengagungkan status korban, serta melemahkan konsep disiplin dan hukuman.
Ia menilai bahwa dalam beberapa kasus, masyarakat justru lebih melindungi pelaku daripada korban, lebih mempercayai narasi emosional dibanding fakta, dan lebih memilih simbol kebaikan daripada solusi praktis.
Saad menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk 'moralitas terbalik', yaitu kondisi ketika tindakan mempertahankan stabilitas sosial justru dicurigai, sementara perilaku destruktif dianggap layak dimaklumi atas nama belas kasih.
Baca Juga: Bukan Soal Gelar, Ini 5 Kriteria Karyawan Pilihan Elon Musk
Sosok Gad Saad dan Gagasan yang Kontroversial
Sebagai akademisi yang dikenal luas di bidang psikologi evolusioner, Gad Saad kerap menghubungkan perilaku manusia dengan budaya, politik, hingga pola konsumsi modern.
Selain Suicidal Empathy, ia juga menulis beberapa buku populer seperti The Consuming Instinct, The Parasitic Mind, dan The Saad Truth About Happiness.
Dalam buku terbarunya, Saad mencoba mengangkat pertanyaan yang sensitif namun relevan dalam perdebatan publik saat ini: apakah masyarakat bisa tetap manusiawi tanpa menjadi naif? Dan apakah belas kasih tetap sehat jika dilepaskan dari batasan, konsekuensi, serta naluri mempertahankan diri?
Mengapa Dukungan Elon Musk Menjadi Sorotan?
Dukungan Elon Musk terhadap buku ini dianggap sejalan dengan pandangan-pandangannya belakangan ini. Musk beberapa kali mengkritik apa yang ia sebut sebagai “eksploitasi empati” dalam politik dan institusi sosial. Ia menilai bahwa kebaikan tanpa batas dapat dimanfaatkan dan bahkan dipersenjatai demi kepentingan tertentu.
Pandangan tersebut memicu perdebatan yang semakin tajam. Pendukung gagasan ini percaya bahwa masyarakat membutuhkan keseimbangan antara empati dan rasionalitas.
Namun di sisi lain, para kritikus khawatir bahwa kritik terhadap empati dapat menjadi pembenaran bagi sikap dingin, tidak peduli, atau bahkan kejam terhadap kelompok rentan.
Karena itulah, Suicidal Empathy diprediksi akan memicu respons yang sangat terbelah. Sebagian orang melihatnya sebagai peringatan penting tentang bahaya pengambilan keputusan berbasis emosi semata. Sebagian lainnya menganggap buku itu sebagai serangan terhadap nilai dasar kemanusiaan.
Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Bisa Ditiru dari Elon Musk untuk Meraih Kesuksesan dalam Hidup