Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, merespons positif penilaian S&P Global Ratings terhadap prospek ekonomi dan pengelolaan di BUMN Indonesia. Penilaian ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah melalui pembentukan Danantara Indonesia dan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Menurutnya, afirmasi internasional ini bisa meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas pasar.
“Afirmasi ini membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menarik likuiditas internasional,” katanya saat dihubungi melalui telepon dari Jakarta.
Sebagaimana diketahui, S&P Global Ratings telah mengumumkan peringkat sovereign Indonesia di level BBB atau investment grade untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk utang jangka pendek dengan outlook stabil. Penilaian ini ditopang optimisme atas reformasi struktural yang tengah dijalankan pemerintah, termasuk transformasi tata kelola dan penguatan kinerja BUMN melalui Danantara Indonesia.
Baca Juga: Gubernur BI Nilai Ketidakpastian Global Meningkat, Pertumbuhan Ekonomi Dunia Masih Akan Melemah
Upaya transformasi yang tengah dilakukan Danantara Indonesia menargetkan perampingan jumlah BUMN dari 1.077 perusahaan menjadi sekitar 200-300, dengan 218 entitas telah berhasil dirampingkan per Juni 2026 dan proyeksi hasil efisiensi langsung sekitar Rp50 triliun.
Sementara itu, S&P secara eksplisit dalam laporan juga menyoroti langkah pemerintah mensentralisasi pengelolaan sektor mineral dan sumber daya alam melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan sebagai upaya yang berpotensi menutup kebocoran penerimaan negara (under-invoicing, transfer pricing) dan mendorong pertumbuhan pendapatan serta penerimaan ekspor jangka panjang.
Esther mengatakan rating BBB ini bisa menjadi pintu masuk bagi investor institusional yang selama ini terikat pada batasan peringkat kredit dalam menentukan alokasi investasinya. Ia juga menambahkan keputusan lembaga pemeringkat seperti S&P, Fitch, dan Moody's untuk mempertahankan peringkat investment grade ini mencerminkan penilaian terhadap fundamental makroekonomi yang solid serta kredibilitas kebijakan suatu negara.
“Dalam konteks Indonesia, afirmasi S&P ini dapat menjadi penyangga sentimen ketika rupiah dan pasar keuangan menghadapi tekanan sekaligus membantu menekan volatilitas mata uang seperti rupiah di pasar valas,” ujarnya.
Lebih lanjut Esther mengatakan negara atau perusahaan dengan rating BBB ini memiliki peluang menerbitkan obligasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih rasional dan menarik bagi investor institusi besar.
Menurutnya, biaya dana yang lebih rendah ini dapat memperluas ruang pembiayaan, baik untuk pemerintah maupun korporasi. Meski demikian, kata Esther, manfaat tersebut tetap bergantung pada kondisi pasar dan persepsi investor terhadap risiko.
Sementara itu, afirmasi BBB/A-2 dengan outlook stabil dapat juga dilihat sebagai bentuk dukungan terhadap konsolidasi BUMN serta penguatan tata kelola sumber daya alam yang sedang dilakukan Danantara Indonesia.
“Sekali lagi rating BBB membuka pintu gerbang likuiditas internasional,” ujarnya.
Secara terpisah, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menegaskan apresiasi dari lembaga pemeringkat internasional ini bukan tujuan akhir. Ia mengatakan, penilaian positif dari S&P ini harus dijadikan pijakan untuk memperkuat kinerja institusi, meningkatkan tata kelola, serta memastikan pengelolaan investasi negara dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.