Ria pun menjelaskan bahwa media kini tidak lagi cukup berfungsi sebagai saluran distribusi berita. Industri media dituntut menghasilkan konten yang relevan dengan kebutuhan audiens sekaligus mampu beradaptasi dengan algoritme media sosial agar tetap memiliki jangkauan yang luas.
Meski demikian, kata dia, tantangan terbesar justru terletak pada upaya menjaga identitas dan kualitas jurnalistik di tengah tekanan untuk mengejar trafik dan keterlibatan pengguna.
"Yang paling sulit adalah bagaimana media tetap bisa relevan dengan algoritme media sosial tanpa kehilangan DNA dan kualitas medianya. Media sosial sering kali mendorong clickbait, tetapi pada saat yang sama media harus tetap menjaga kualitas kontennya," jelas Ria.
Selain itu, Ria juga menyoroti semakin pendeknya rentang perhatian (attention span) audiens. Kondisi tersebut membuat media harus bekerja lebih keras agar pembaca tetap tertarik mengonsumsi konten yang informatif dan mendalam.
"Budaya membaca juga harus tetap dipertahankan. Sekarang attention span audiens sangat sempit sehingga membuat mereka sulit bertahan menikmati sebuah konten. Itu menjadi tantangan besar bagi media," ujarnya.
Tak hanya itu, lanjut Ria, maraknya misinformasi di era digital juga menjadi pekerjaan rumah bagi industri media.
Menurut Ria, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan meningkatnya literasi masyarakat agar pembaca mampu membedakan informasi yang akurat dan berkualitas dari konten yang menyesatkan.
"Belum lagi adanya misinformasi. Teknologi membuat pembaca juga harus semakin pintar dalam memilih konten yang benar dan berkualitas bagi mereka," tutupnya.
Baca Juga: Lelah dengan Media Sosial? Coba Baca 10 Buku yang Menantang Pikiran Ini