Growthmates, perkembangan teknologi telah mengubah wajah industri media secara drastis dalam dua dekade terakhir.

Media yang sebelumnya hanya mengandalkan platform konvensional kini dituntut untuk bertransformasi menjadi ekosistem yang lebih fleksibel, hadir di berbagai kanal, sekaligus mampu memenuhi kebutuhan audiens yang terus berubah.

Editor in Chief Harper's Bazaar Indonesia, Ria Lirungan, menilai, perubahan tersebut merupakan konsekuensi dari pesatnya perkembangan teknologi yang mendorong media untuk terus beradaptasi.

"Menurut saya perkembangan media saat ini sangat luar biasa. Kita tahu bagaimana sejak lebih dari 20 tahun lalu industri media konvensional harus berjuang melakukan shifting karena adanya digitalisasi. Media-media konvensional kemudian berubah menjadi media yang multiplatform dan hybrid," terang Ria, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.

Ria menuturkan, perubahan itu tidak hanya terjadi pada media cetak, tetapi juga media penyiaran. Stasiun radio maupun televisi kini harus memperluas jangkauannya ke platform digital, termasuk menghadirkan layanan audio digital dan podcast sebagai bagian dari strategi menjangkau audiens yang lebih luas.

"Media broadcast juga akhirnya harus masuk ke digital audio. Itulah mengapa sekarang podcast berkembang. Yang paling utama menjadi penyebab perubahan ini adalah teknologi," katanya.

Namun, Ria menilai, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan yang tidak sederhana.

Di satu sisi, teknologi membuka peluang bagi media untuk menjangkau lebih banyak pembaca melalui berbagai platform. Di sisi lain, media harus bersaing dalam ekosistem digital yang dikendalikan oleh algoritme dan perubahan perilaku konsumsi informasi.

"Teknologi menjadi pemicu perkembangan media saat ini, dan menurut saya perkembangan ini seperti pisau bermata dua," ungkapnya.

Baca Juga: Perempuan Leader Harus Tegas atau Sensitif? Ini Pandangan Editor in Chief Harper’s Bazaar Indonesia tentang Kepemimpinan