Tim Eropa yang terdiri dari duta besar dan pejabat tinggi kedutaan besar Belanda, Austria, Prancis, Spanyol, Bulgaria, Lithuania, Belgia, Portugal, Republik Czech, Irlandia, Denmark, Finlandia, serta Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, mengunjungi lokasi program “Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle” (Dukungan terhadap Keanekaragaman Laut dan Perikanan Pesisir di Segitiga Terumbu Karang) di Sulawesi Utara pada 18 Juli lalu. Program kerja sama dengan Kementerian Kehutanan (Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) yang dilaksanakan di Sulawesi Utara dan Maluku Utara ini didanai oleh Uni Eropa melalui Bank Pembangunan Jerman (KfW), berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program.

Program ini dibangun berdasarkan program terpisah, tetapi saling melengkapi, yang didanai oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir Federasi Jerman (BMUKN)–yang mencakup Sulawesi Utara, Aceh, dan Nusa Tenggara Barat. Hal ini mencerminkan aksi bersama antara Uni Eropa dan negara anggotanya dalam berkontribusi pada konservasi keanekaragamanhayati serta ekonomi biru yang berkelanjutan di Indonesia.

Baca Juga: Dukungan Bank Jakarta dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif DKI Dijempoli OJK

Indonesia berada di jantung Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Sulawesi Utara, khususnya kawasan Minahasa Utara, menjadi salah satu lanskap kunci dalam program ini karena menyimpan ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Selain menjadi kawasan penyangga bagi Taman Nasional Bunaken dalam pelestarian ekosistem perairan, wilayah ini juga menopang ketahanan pangan dan penghidupan ribuan masyarakat pesisir.

Dalam kunjungan ini, Tim Eropa dan Pemerintah Indonesia sama-sama meninjau kawasan konservasi laut, serta bertemu langsung dengan kelompok masyarakat dari Desa Gangga Dua, Bahoi, Lihunu, Tarabitan, Bulutui dan Galo-Galo. "Indonesia memiliki peran penting bagi dunia karena menjadi rumah bagi salah satu ekosistem laut terkaya yang dimiliki bumi ini. Lewat strategi Global Gateway, Uni Eropa turut mendukung upaya pemulihan terumbu karang, penguatan sektor perikanan, dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir, termasuk di Minahasa Utara. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga kelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan yang berkelanjutan," ujar Denis Chaibi, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Nandang Prihadi mengatakan, “Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Uni Eropa, KfW German Development Bank, WCS, serta seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Kami berharap kunjungan lapangan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus memperlihatkan praktikpraktik terbaik pengelolaan kawasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Sulawesi Utara."

Sejak 2019 terdapat dua program yang didukung oleh Uni Eropa dan BMUKN Jerman dan dikelola WCS Indonesia di bawah pengawasan KfW. Kedua program bertujuan untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan (KKP), tata kelola perikanan berkelanjutan, dan penghidupan masyarakat pesisir di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Program ini secara khusus memperluas cakupan kerja ke perlindungan ekosistem laut dan perikanan pesisir yang kritis di Indonesia, Filipina, dan kawasan Segitiga Terumbu Karang yang lebih luas.

Dalam hal pelestarian terumbu karang dan ekosistem laut, program ini telah mendukung pembentukan dan penguatan pengelolaan 21 kawasan konservasi perairan seluas 1.631.572 hektare di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Aceh. Di dalamnya termasuk 16.613 hektare terumbu karang, 14.318 hektare mangrove, dan 10.582 hektare padang lamun yang didukung oleh Uni Eropa. 

Di sisi perikanan berkelanjutan dan ketahanan pangan, empat kawasan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem kini telah berhasil menjaga kesehatan stok 27 spesies ikan utama, termasuk kakap, kerapu, dan ikan pelagis kecil yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Di Desa Gangga Dua, penutupan musiman perikanan bagan yang disepakati bersama nelayan berhasil mendongkrak pendapatan nelayan dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta per musim.

Terkait perekonomian dan penghidupan masyarakat pesisir; sebanyak 29 kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas) dan 19 komunitas pesisir kini terlibat dalam usaha berbasis konservasi, termasuk pengolahan hasil laut, seperti produksi bakso ikan dan keripik pisang oleh Poklahsar Kalkop di Desa Bulutui, yang meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi perempuan pesisir. Selain itu, kegiatan ekowisata berbasis masyarakat berkembang cukup pesat. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Desa Bahoi dan Lihunu telah mengembangkan ekowisata snorkeling, homestay, dan jasa pemandu wisata. Desa Lihunu bahkan dinobatkan sebagai salah satu dari 500 Desa Wisata Terbaik (ADWI) oleh Kementerian Pariwisata pada April 2024.

Sementara itu, juga terdapat kemajuan di aspek tata kelola dan pembiayaan berkelanjutan, dimana Pemerintah Provinsi telah berkomitmen mengembangkan skema pembiayaan berbasis kinerja BLUD) untuk mendanai pengelolaan kawasan konservasi dan perikanan secara mandiri dan berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada pendanaan program jangka pendek. Secara keseluruhan, program ini telah menjangkau 5.752 penerima manfaat langsung serta sekitar 24.542 penerima manfaat tidak langsung di Sulawesi Utara dan Maluku Utara, melalui peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan masyarakat, dan pengembangan mata pencaharian berkelanjutan.