Dari sinilah konsep skin resilience menjadi penting. Bagi dr. Ayman, skin resilience bukan berarti membuat kulit menjadi kebal terhadap berbagai paparan.

Sebaliknya, konsep tersebut lebih berkaitan dengan kemampuan kulit untuk mempertahankan fungsinya ketika menghadapi tekanan sekaligus memulihkan kondisinya setelah terpapar.

“Skin resilience itu sendiri itu bukan berarti kita kebal. Bukan kita punya tenaga dalam terus kebal dari segala macam. Nggak gitu konsepnya. Sekali langsung kebal, karena nggak mungkin kita bisa kebal. Tapi, bagaimana kita bisa membuat fungsi kulit kita itu bertahan dari tekanan tadi, dari sinar matahari, dari panas, dan lainnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Ayman menambahkan, kemampuan kulit untuk kembali ke kondisi semula setelah menghadapi berbagai tekanan juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanannya. Konsep tersebut kemudian berkaitan erat dengan skin longevity, yang menurutnya bukan berarti berusaha menghentikan proses penuaan.

“Pasti kita akan tua. Nggak mungkin nggak akan tua. Pasti kita akan selalu tua. Tapi, bagaimana skin longevity itu konsepnya, kita menjaga fungsinya tetap baik sampai ke depannya. Bagaimana resilience kulit kita itu tetap terjaga sampai baik, fungsinya selalu baik,” ungkap dr. Ayman.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten adalah menggunakan sunscreen. Menurutnya, perlindungan tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya sesekali ketika seseorang merasa akan banyak terpapar matahari.

“Dengan cara memproteksi dari faktor eksternal, salah satunya menggunakan sunscreen. Itu hal yang simple dan harus dilakukan terus-menerus. Dan udah ada risetnya bahwa penggunaan sunscreen yang konsiste, bukan sekali pakai habis itu udah cukup, tapi konsisten, reapply, dan lain-lainnya, itu memengaruhi resilience kita, ketahanan terhadap pressure-pressure yang lainnya tadi,” kata dr. Ayman.

Menurut dr. Ayman, kebiasaan tersebut dapat membantu memperlambat berbagai dampak penuaan kulit dan menurunkan risiko kanker kulit. Namun, perlindungan kulit juga tidak berhenti pada paparan sinar matahari.

Terakhir, dr. Ayman mengingatkan adanya faktor panas atau heat yang juga perlu diperhatikan dalam keseharian. Paparan panas tidak selalu berasal dari sinar matahari, tetapi juga dapat muncul dari aktivitas lain, termasuk ketika seseorang berada di dapur atau bekerja di lingkungan dengan pencahayaan yang menghasilkan panas, seperti saat syuting.

“Perlu diketahui kan panas itu nggak selalu di sinar matahari. Kita masak ada panas, atau misalkan dalam ruangan shooting, cahaya kan panas. Nah, heat aging itu ada istilahnya, nggak cuma photo aging. Jadi ada heat aging,” tuturnya.

Menurut dr. Ayman, panas dapat meningkatkan suhu kulit dan kemudian memengaruhi sejumlah proses di dalam kulit, termasuk produksi kolagen serta pigmentasi.

“Karena itu, memahami berbagai bentuk paparan yang dihadapi kulit sehari-hari menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang,” tandasnya.

Baca Juga: Wardah PDRN Sunscreen Hadir dengan UV Thermal Relief Technology, Ini Keunggulannya