Growthmates, aktivitas sehari-hari membuat kulit berhadapan dengan berbagai paparan, baik ketika berada di luar maupun di dalam ruangan. Sinar matahari, panas, hingga cahaya dari lingkungan sekitar menjadi bagian dari keseharian yang mungkin tidak selalu disadari dapat memengaruhi kondisi kulit. Karena itu, perlindungan kulit tidak seharusnya hanya menjadi perhatian ketika seseorang beraktivitas di luar ruangan.
Dokter sekaligus Content Creator dr. Ayman Alatas Sp.MK., mengungkapkan, anggapan bahwa sunscreen hanya dibutuhkan saat berada di luar ruangan perlu diluruskan. Menurutnya, selama masih terdapat cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan, kulit tetap berpotensi terpapar UVA.
“Banyak yang mengira bahwa pakai sunscreen cuma di luar ruangan. Padahal, aku tuh selalu bilang, lampu kita namanya visible light. Belum lagi panas atau thermal juga memengaruhi kulit. Belum lagi kadang misalkan cahaya matahari kan pasti masuk ke dalam ruangan,” ungkap dr. Ayman, saat talkshow ‘Can Sunscreen Do More Than Protect?’, yang menjadi bagian dari Wardah Skin Longevity Clinic di SPAC8 ASHTA, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).
dr. Ayman bahkan memiliki cara sederhana untuk menggambarkan kapan seseorang tetap membutuhkan sunscreen meski berada di dalam ruangan.
“Aku suka patokannya, misalkan kalian di dalam ruangan, habis itu dimatiin lampunya dan gelap gulita, berarti nggak ada sinar matahari yang masuk, berarti kalian boleh nggak pakai sunscreen. Tapi, selama kalian masih bisa melihat di siang atau pagi hari, berarti ada sinar matahari yang masuk, berarti UVA tetap ada. Sehingga sunscreen tetap perlu dipakai,” jelasnya.
Menurut dr. Ayman, kondisi tersebut semakin relevan ketika seseorang beraktivitas di gedung perkantoran, sekolah, maupun tempat lain yang memiliki banyak jendela atau kaca. Meski UVB dapat lebih banyak terhalang, kata dia, UVA tetap dapat masuk dan berkontribusi terhadap berbagai tanda penuaan kulit.
“Walaupun di dalam ruangan, apalagi di perkantoran atau lainnya di sekolah, kan banyak kaca-kaca. Mungkin UVB nggak masuk, tapi UVA tuh masih masuk. Nah, UVA ini yang bisa akhirnya nanti pengaruh ke fine line, tanda-tanda penuaan dan lainnya,” katanya.
Karena itu, dr. Ayman sependapat bahwa penggunaan sunscreen sebaiknya menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, baik saat berada di dalam maupun luar ruangan. Selain penggunaan awal, reapply juga menjadi bagian yang tidak kalah penting.

“Jadi, mau di dalam ruangan, mau di luar ruangan, tetap pakai sunscreen. Dan jangan lupa reapply, ini yang banyak suka lupa,” kata dr. Ayman.
Lebih jauh, dr. Ayman mengajak masyarakat melihat kesehatan kulit dalam perspektif jangka panjang. Menurutnya, kulit merupakan organ terbesar pada tubuh yang setiap hari menghadapi berbagai paparan dan tekanan.
Karena itu, lanjut dia, menjaga kulit bukan hanya tentang mempertahankan penampilan saat ini, tetapi juga memastikan fungsi kulit tetap optimal seiring bertambahnya usia.
Ia pun lantas menggambarkan kondisi kulit seperti sebuah ekosistem yang memiliki banyak komponen dan harus berada dalam keadaan seimbang.
“Jadi yang pertama kita tahu bahwa kulit itu ada skin barrier. Aku bilang itu ekosistem kayak hutan. Ada pohonnya, ada tanahnya, ada airnya, ada microbiome-nya juga, ada bakteri hidup yang menjaga, ada sebumnya, ada kenapa pH-nya harus di bawah 5. Dan semua itu harus dalam keadaan seimbang,” jelasnya.
Menurut dr. Ayman, faktor internal seperti genetik memang tidak dapat diubah. Namun, perlindungan terhadap faktor eksternal menjadi sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga kondisi kulit. Paparan sinar matahari dan panas, misalnya, dapat terjadi berulang kali dalam kehidupan sehari-hari.
Ia pun menggunakan analogi jalanan untuk menggambarkan dampak paparan yang terus-menerus terhadap kulit.
“Aku bayanginnya kulit kita kayak jalanan. Kalau misalkan ada truk lewat sekali kan baik-baik aja, masih oke lah, masih kuat. Tapi kan truk yang lewat terus-terusan, jalanannya bisa jadi aus, bolong, dan lainnya. Dan hidup kita kan penuh tekanan. Nggak tekanan hidup aja, kulit kita juga kena tekanan dari segala macam,” tukasnya.
Baca Juga: Yuki Kato Ungkap Cara Menjaga Kesehatan Kulit, dari Sunscreen hingga Hidrasi untuk Skin Longevity
Dari sinilah konsep skin resilience menjadi penting. Bagi dr. Ayman, skin resilience bukan berarti membuat kulit menjadi kebal terhadap berbagai paparan.
Sebaliknya, konsep tersebut lebih berkaitan dengan kemampuan kulit untuk mempertahankan fungsinya ketika menghadapi tekanan sekaligus memulihkan kondisinya setelah terpapar.
“Skin resilience itu sendiri itu bukan berarti kita kebal. Bukan kita punya tenaga dalam terus kebal dari segala macam. Nggak gitu konsepnya. Sekali langsung kebal, karena nggak mungkin kita bisa kebal. Tapi, bagaimana kita bisa membuat fungsi kulit kita itu bertahan dari tekanan tadi, dari sinar matahari, dari panas, dan lainnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Ayman menambahkan, kemampuan kulit untuk kembali ke kondisi semula setelah menghadapi berbagai tekanan juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanannya. Konsep tersebut kemudian berkaitan erat dengan skin longevity, yang menurutnya bukan berarti berusaha menghentikan proses penuaan.
“Pasti kita akan tua. Nggak mungkin nggak akan tua. Pasti kita akan selalu tua. Tapi, bagaimana skin longevity itu konsepnya, kita menjaga fungsinya tetap baik sampai ke depannya. Bagaimana resilience kulit kita itu tetap terjaga sampai baik, fungsinya selalu baik,” ungkap dr. Ayman.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten adalah menggunakan sunscreen. Menurutnya, perlindungan tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya sesekali ketika seseorang merasa akan banyak terpapar matahari.
“Dengan cara memproteksi dari faktor eksternal, salah satunya menggunakan sunscreen. Itu hal yang simple dan harus dilakukan terus-menerus. Dan udah ada risetnya bahwa penggunaan sunscreen yang konsiste, bukan sekali pakai habis itu udah cukup, tapi konsisten, reapply, dan lain-lainnya, itu memengaruhi resilience kita, ketahanan terhadap pressure-pressure yang lainnya tadi,” kata dr. Ayman.
Menurut dr. Ayman, kebiasaan tersebut dapat membantu memperlambat berbagai dampak penuaan kulit dan menurunkan risiko kanker kulit. Namun, perlindungan kulit juga tidak berhenti pada paparan sinar matahari.
Terakhir, dr. Ayman mengingatkan adanya faktor panas atau heat yang juga perlu diperhatikan dalam keseharian. Paparan panas tidak selalu berasal dari sinar matahari, tetapi juga dapat muncul dari aktivitas lain, termasuk ketika seseorang berada di dapur atau bekerja di lingkungan dengan pencahayaan yang menghasilkan panas, seperti saat syuting.
“Perlu diketahui kan panas itu nggak selalu di sinar matahari. Kita masak ada panas, atau misalkan dalam ruangan shooting, cahaya kan panas. Nah, heat aging itu ada istilahnya, nggak cuma photo aging. Jadi ada heat aging,” tuturnya.
Menurut dr. Ayman, panas dapat meningkatkan suhu kulit dan kemudian memengaruhi sejumlah proses di dalam kulit, termasuk produksi kolagen serta pigmentasi.
“Karena itu, memahami berbagai bentuk paparan yang dihadapi kulit sehari-hari menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang,” tandasnya.
Baca Juga: Wardah PDRN Sunscreen Hadir dengan UV Thermal Relief Technology, Ini Keunggulannya