Sorotan berikutnya diarahkan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dokter Tirta menilai program tersebut memiliki landasan yang baik secara teori, tetapi pelaksanaannya membutuhkan pengawasan berlapis agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Dokter Tirta juga mengingatkan bahwa perluasan program sebaiknya tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Menurutnya, pemerintah perlu memulai dari wilayah tertentu sebagai proyek percontohan atau pilot project, kemudian memperluas cakupannya secara bertahap setelah sistem pengawasan berjalan dengan baik.

“Cuma kan pengawasannya kan harus bertingkat. Seharusnya MBG ini, seperti yang saya sudah kritik dari dulu, dibuat di daerah tertentu dulu. Setelah pilot project-nya jadi, baru diperluas secara bertahap sehingga program pengawasannya bagus,” kata Dokter Tirta.

Bagi Dokter Tirta, mengapresiasi kebijakan pemerintah tidak lantas membuat masyarakat harus berhenti menyampaikan kritik. Ia mengingatkan agar perbedaan pandangan tidak dimanfaatkan untuk memicu konflik horizontal atau mengadu domba masyarakat.

Ia menilai, kritik justru menjadi bagian penting dari tanggung jawab warga negara, terlebih karena masyarakat ikut berkontribusi melalui pajak yang dibayarkan.

“Loh, kenapa kok tetap mengkritisi? Ya karena tugas rakyat itu ya, mengawasi. Kita sudah iuran pajak buat mereka dan buat pejabatnya asbun. Ya kan tetap kesel kan?,” tukasnya.

Dokter Tirta juga menyinggung polemik pernyataan sejumlah pejabat yang mempertanyakan kontribusi masyarakat. Menurutnya, kontribusi warga negara tidak semestinya diukur hanya dari narasi atau penilaian sepihak, sebab masyarakat pada dasarnya telah berkontribusi, salah satunya melalui kewajiban perpajakan.

Ia menegaskan, pernyataan yang mempertanyakan kontribusi masyarakat tersebut menjadi salah satu alasan munculnya kritik, termasuk dalam pembahasan soal pajak.

“Karena pejabatnya asbun, mas. Gara-gara ada satu pejabat atau dua pejabat yang selalu bilang, kontribusimu mana? Bahkan ada figur yang bilang, kontribusimu mana? Sejatinya semua warga itu sudah berkontribusi ya,” pungkasnya.

Baca Juga: Dokter Tirta Sentil Anggapan Orang Miskin karena Malas: Kemiskinan Tak Sesederhana Itu