Lebih lanjut, Dokter Tirta berpandangan, sejumlah tuntutan yang disuarakan masyarakat masih berkaitan dengan persoalan yang telah berulang kali menjadi perhatian publik.

Beberapa di antaranya mencakup evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), evaluasi Koperasi Desa (Kopdes), efisiensi anggaran, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta pemberantasan korupsi.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius agar aspirasi masyarakat tidak berhenti sebagai tuntutan yang terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas.

“Sebetulnya tuntutannya apa? Tuntutannya kan sama saja dari kemarin-kemarin. Evaluasi MBG, evaluasi Kopdes, efisiensi anggaran, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, terus diperbaiki ke depannya, dan berantas korupsi,” tuturnya.

Selain menanggapi pandangan yang meremehkan demonstrasi, Dokter Tirta juga mengkritik anggapan bahwa tenaga medis, termasuk dokter, sebaiknya tidak terlibat dalam politik.

Terkait hal itu, Dokter Tirta pun menegaskan bahwa profesi dokter tidak menghilangkan hak seseorang sebagai warga negara untuk menyampaikan pendapat mengenai persoalan publik.

Ia juga menyinggung sejarah organisasi Budi Utomo yang berdiri pada 1908 dan memiliki keterkaitan dengan kalangan pelajar kedokteran serta tenaga medis. Menurutnya, keterlibatan kalangan terdidik dalam persoalan masyarakat bukanlah hal yang sepenuhnya terpisah dari sejarah Indonesia.

“Terus ada yang mengatakan, kalau bisa dokter itu enggak usah berpolitik. Loh, Anda lupa? Organisasi pertama di Indonesia, Budi Utomo, itu dulu bagaimana? Dokter semua. Jadi, semua orang itu memiliki hak politik yang sama untuk berpendapat,” tegasnya.

Bagi Dokter Tirta, keterlibatan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap kritis terhadap kebijakan publik, memahami persoalan yang berkembang, dan tidak melupakan perjuangan yang telah membuka ruang kebebasan berpendapat.

Ia menekankan bahwa kebebasan yang dinikmati masyarakat saat ini perlu diiringi dengan kesadaran untuk menjaga ruang demokrasi, termasuk dengan menghargai hak setiap orang untuk menyampaikan kritik dan tuntutan.

“Jadi, kalian itu juga harus kritis. Kalian bisa menikmati apa yang terjadi sekarang ini gara-gara orang-orang yang demo dulu. Jadi, aspirasi itu penting,” pungkas Dokter Tirta.

Baca Juga: Dokter Tirta Kritik Penanganan Karhutla: Negara Wajib Jamin Udara dan Air Bersih