Degradasi lahan menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi oleh industri pertanian Indonesia. Data menunjukkan bahwa degradasi lahan di Indonesia mencapai lebih dari 40 juta hektare. Dengan kondisi tersebut, petani mengalami kesulitan dalam menghasilkan panen yang stabil untuk mencapai kedaulatan pangan.

Merespons hal tersebut, PT Pramudita Darya Parma memperkenalkan Pupuk Hayati Dinosaurus sebagai solusi yang membantu mengatasi permasalahan degradasi lahan pertanian di Tanah Air.

Baca Juga: BPDP, Ditjenbun, dan PT RPN Perkuat Kompetensi Pekebun Sawit Muara Enim Lewat SDMP 2026

Freddy Wijaya selaku founder Pupuk Dinosaurus mengatakan bahwa pupuk hayati Dinosaurus dikembangkan berbasis bioteknologi sehingga sangat baik untuk memulihkan kondisi lahan sehingga mendorong hasil pertanian dengan lebih optimal. Hal demikian ia sampaikan dalam rangkaian INAGRITECH 2026.

"Pupuk hayati Dinosaurus kembali hadir di INAGRITECH 2026 sebagai solusi kondisi degradasi lahan pertanian di Indonesia,” pungkasnya, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Ia menambahkan, Pupuk Hayati Dinosaurus berhasil menciptakan formula dengan mengkombinasikan 18 jenis mikroba alami yang bermanfaat bagi tanah dan tumbuhan.

Hal tersebut dikembangkan berdasarkan pemahaman bahwa degradasi tanah pertanian salah satunya disebabkan oleh ketergantungan terhadap pupuk kimia.

"Tanah boleh saja mengandung nutrisi makro tinggi, namun tidak adanya mikroba dan rusaknya ekosistem tanah akibat residu kimia yang berlebihan membuat tanaman semakin menurun produktivitasnya," tambahnya.

Untuk mengembalikan kesehatan tanah, dibutuhkan peran bioteknologi. Dari 18 mikroba yang terkandung dalam pupuk hayati Dinosaurus, terdapat berbagai jenis yang bertugas sebagai pemecah unsur hara dalam tanah, penambat nitrogen, penghasil enzim pertumbuhan, dan penghalau patogen penyebab penyakit. Beberapa di antaranya adalah Azotobacter sp, Azospirillumsp, dan Streptomycessp.

"Karena berbagai kelebihannya, pemakaian pupuk hayati Dinosaurus tidak hanya dapat memulihkan kondisi kesehatan tanah, namun juga dapat menekan biaya produksi di lapangan, serta meningkatkan hasil panen hingga 30%," tutupnya.