Dinamika politik dan tekanan ekonomi yang tengah berlangsung menuntut industri Public Relations (PR) untuk bertransformasi lebih cepat. Di tengah perubahan kebutuhan klien dan semakin kompleksnya tantangan komunikasi, perusahaan PR dinilai tidak lagi cukup hanya menawarkan layanan 360 derajat, tetapi harus mampu menghadirkan solusi yang relevan, memiliki keahlian yang kredibel, serta memberikan nilai strategis bagi bisnis.
Hal tersebut mengemuka dalam talkshow bertajuk "Situasi Politik dan Ekonomi Terkini: Tantangan dan Peluang" yang diselenggarakan Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) dalam rangkaian Temu #SobatAPPRI, pekan lalu di Jakarta. Acara ini menghadirkan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) sekaligus CEO Tempo Digital, Wahyu Dhyatmika; Special Communications Staff to the Chairman Office APINDO, Dian Noeh Abubakar; Founder KedaiKOPI, Hendri Satrioz; dan dimoderatori oleh Founder & CEO VMCS Advisory Indonesia, Elvera N. Makki.
Baca Juga: Peran Visibilitas bagi Organisasi di Tengah Masifnya Pemanfaatan AI
Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, mengatakan bahwa perubahan lanskap bisnis harus menjadi momentum bagi perusahaan PR untuk memperkuat daya saing. "Saat kondisi ekonomi penuh tantangan, justru perusahaan PR harus semakin relevan terhadap kebutuhan klien. Bukan sekadar menawarkan layanan yang lengkap, melainkan mampu menjadi mitra strategis yang memahami persoalan bisnis dan menghadirkan solusi yang berdampak," ujarnya.
Para pembicara menilai bahwa diferensiasi menjadi kunci keberhasilan perusahaan PR di masa mendatang. Setiap perusahaan perlu memiliki ciri khas layanan yang jelas agar tidak terjebak dalam persaingan berbasis harga semata. Selain itu, peluang baru juga terbuka melalui pengembangan layanan seperti personal profiling, komunikasi berbasis kepemimpinan (leadership communication), hingga ekspansi ke pasar regional.
Kolaborasi lintas ekosistem juga dinilai semakin penting. Kemitraan antara perusahaan PR dengan media, asosiasi industri, akademisi, maupun komunitas diyakini mampu menghasilkan komunikasi yang lebih kredibel sekaligus memperluas peluang bisnis. Wahyu Dhyatmika menegaskan bahwa industri komunikasi tidak dapat berkembang secara sendiri-sendiri, "Kolaborasi adalah kunci. Industri PR dan media memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kualitas informasi dan membangun kepercayaan publik. Karena itu, sinergi harus terus diperkuat."
Kematian traffic, tuntutan Return of Ad Spend, pergeseran kepercayaan media melalui content creator, praktik perang harga, ditambah kondisi ekonomi yang bergejolak dan semakin turunnya belanja iklan, sangat berimplikasi terhadap perusahaan media. Karena itu AMSI membuat terobosan melalui program Certified News Creator dengan memberikan edukasi bagi anggotanya untuk menjadi media afilitor. Dengan inovasi ini, diharapkan tercipta ekosistem yang lebih kuat dan sehat, membangun produksi informasi dan consumption habit yang bertanggung jawab.
Sementara itu, Hendri Satrio mengatakan bahwa perusahaan PR harus jeli dalam mencari peluang bisnis. ”Di daerah masih banyak perusahaan maupun individu yang membutuhkan layanan PR, demikian pula di sektor pemerintah. Jaga dan pertahankan kredibilitas perusahaan sebagai pondasi utama kepercayaan publik," tegasnya.
Melalui forum ini, APPRI berharap para pelaku industri tidak hanya mampu bertahan menghadapi ketidakpastian ekonomi, tetapi juga menjadikan perubahan sebagai momentum untuk berinovasi, memperkuat kompetensi, dan memperluas pasar. Diskusi ini sekaligus menegaskan komitmen APPRI untuk terus menghadirkan ruang berbagi pengetahuan dan kolaborasi bagi anggotanya, sehingga industri PR Indonesia semakin adaptif, kompetitif, dan mampu menjawab kebutuhan komunikasi yang terus berkembang.