Dipaparkan Gordon, meski berada di bawah perusahaan yang sama, Glengoyne dan Tamdhu menawarkan karakter yang sangat berbeda. Berdiri sejak 1833, Glengoyne dikenal sebagai salah satu Highland distillery paling elegan di Skotlandia.

Distileri ini menerapkan proses distilasi yang berlangsung lebih lambat dibanding kebanyakan produsen whisky lainnya sehingga menghasilkan karakter rasa yang halus, kompleks, dan seimbang, dengan lapisan cita rasa buah madu, rempah lembut, serta sentuhan kayu oak yang berkembang perlahan di setiap tegukan.

Sementara itu, Tamdhu yang berdiri pada 1897 memiliki karakter yang lebih kaya dan intens. Seluruh proses maturasinya dilakukan secara eksklusif menggunakan Oloroso sherry casks sehingga menghasilkan profil rasa buah kering, dark chocolate, rempah hangat, serta tekstur yang lebih dalam dan mewah.

Meskipun memiliki karakter yang kontras, keduanya sama-sama mengusung filosofi traditional whisky-making yang menempatkan waktu, kesabaran, dan craftsmanship sebagai inti dari proses produksi.

Di tengah industri yang bergerak semakin cepat, Glengoyne dan Tamdhu tetap mempertahankan pendekatan yang tidak terburu-buru, mulai dari proses distilasi hingga pematangan dalam cask pilihan. Bagi kedua distileri tersebut, waktu bukan sekadar bagian dari proses, melainkan elemen utama yang membentuk karakter setiap dram whisky.

Filosofi tersebut juga tercermin sepanjang rangkaian acara Unveiling the Cask. Para tamu menikmati pengalaman whisky pairing melalui sajian makan malam empat hidangan yang dikurasi khusus oleh Cohiba Atmosphere Jakarta.

Menu dimulai dari classic Caesar salad, mushroom soup, tenderloin sebagai hidangan utama, hingga tiramisu sebagai penutup, yang masing-masing dipadukan dengan Glengoyne 15 Year Old, Glengoyne 18 Year Old, Tamdhu 15 Year Old, dan Tamdhu 18 Year Old.

Suasana makan malam menjadi ruang bagi para tamu untuk berdiskusi mengenai karakter whisky, mulai dari pengaruh sherry cask hingga perbedaan profil rasa antara Glengoyne yang elegan dan fruity dengan Tamdhu yang lebih kaya dan berani.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa menikmati whisky kini telah berkembang menjadi eksplorasi terhadap rasa, sejarah, dan craftsmanship di balik setiap botol.

Selain sesi pairing, malam itu juga menghadirkan bespoke cocktail berbahan dasar Glengoyne 12 Year Old yang menawarkan interpretasi lebih modern terhadap single malt tersebut. Perpaduan sentuhan citrus, rempah, dan karakter alkoholnya menunjukkan bahwa Glengoyne tetap mampu menghadirkan karakter khas meski disajikan dalam bentuk cocktail.

Memasuki penghujung acara, suasana berubah semakin hidup dengan iringan live DJ dan penampilan saxophonist yang melengkapi atmosfer nightlife Jakarta.

Perpaduan musik, kuliner, dan single malt Scotch whisky tersebut menjadi penutup yang merepresentasikan bagaimana Glengoyne dan Tamdhu ingin memperkenalkan pengalaman menikmati whisky secara lebih menyeluruh kepada para penikmat di Indonesia.

Setelah peluncuran perdananya, Glengoyne dan Tamdhu akan mulai tersedia di berbagai premium venue serta destinasi whisky pilihan di Indonesia.

Kehadiran keduanya diharapkan dapat memperkaya pilihan bagi para whisky enthusiast yang ingin mengenal lebih dekat karakter dua distileri Skotlandia yang sama-sama dibangun di atas filosofi kesabaran, waktu, dan craftsmanship.

Baca Juga: Road to Whisky Live Jakarta 2026 Resmi Dimulai: Evolusi dari Pameran Whisky ke Ajang Multi-Spirits