Upaya memerangi kejahatan digital lintas negara memasuki babak baru. Sejumlah perusahaan teknologi global, termasuk Meta, Microsoft, Coinbase, dan Starlink, bekerja sama dengan aparat penegak hukum internasional dalam operasi besar untuk membongkar jaringan online scam yang beroperasi di Asia Tenggara.
Kolaborasi yang melibatkan U.S. Department of Justice (DOJ), Federal Bureau of Investigation (FBI), Royal Thai Police, serta berbagai lembaga penegak hukum dari Inggris, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Thailand ini menjadi salah satu operasi lintas sektor terbesar yang pernah dilakukan untuk menindak sindikat penipuan online.
Selain membongkar jaringan kriminal, operasi ini juga menunjukkan bagaimana kerja sama antara sektor teknologi dan penegak hukum dapat memberikan dampak nyata dalam melindungi masyarakat di era digital.
Hasil operasi tersebut menunjukkan capaian yang signifikan. Lebih dari satu juta aset digital yang digunakan untuk aktivitas penipuan berhasil ditindak. Meta menonaktifkan lebih dari 1,4 juta akun, halaman, dan grup di Facebook serta Instagram yang terkait dengan jaringan scam.
Sementara itu, Microsoft menangguhkan sekitar 20.000 akun yang digunakan oleh para pelaku untuk menjalankan aktivitas penipuan lintas platform.
Di sektor keuangan digital, Coinbase berhasil membekukan aset kripto senilai lebih dari 3 juta dolar Amerika Serikat yang diduga terkait dengan jaringan kriminal tersebut.
Di sisi lain, Starlink memutus konektivitas ribuan perangkat yang dicurigai digunakan secara ilegal untuk mendukung operasi penipuan online. Berkat kerja sama dan pertukaran intelijen yang intensif, aparat penegak hukum juga berhasil mengidentifikasi sejumlah lokasi dan jaringan penipuan yang berpotensi berkembang di masa mendatang.
Operasi ini turut menghasilkan tindakan hukum nyata. Hingga saat ini, Royal Thai Police telah menangkap 63 orang yang diduga terlibat dalam jaringan online scam tersebut.
Kerja sama ini berawal pada 18 Mei ketika Scam Center Strike Force dari U.S. Department of Justice yang dipimpin oleh US Attorney for the District of Columbia, Jeanine Pirro, mempertemukan berbagai perusahaan teknologi dengan aparat penegak hukum internasional.
Sepanjang pekan, para peserta berkumpul di Washington, DC, untuk berbagi informasi, menghubungkan berbagai temuan lintas platform, dan menyusun langkah penindakan yang terkoordinasi.
Kolaborasi tersebut memungkinkan berbagai potongan informasi yang sebelumnya tersebar di banyak platform dapat dirangkai menjadi gambaran yang utuh mengenai aktivitas para pelaku.
Hasilnya, aparat dan perusahaan teknologi mampu mengidentifikasi, menargetkan, dan mengganggu operasi sindikat penipuan yang selama ini mengeksploitasi jutaan korban di seluruh dunia.
Sindikat-sindikat tersebut diketahui menjalankan berbagai modus kejahatan, mulai dari romance scam, penipuan investasi, hingga praktik kerja paksa yang terjadi di pusat-pusat operasi scam.
Karena sifat kejahatannya yang lintas negara dan lintas platform, penanganannya membutuhkan koordinasi yang melibatkan banyak pihak sekaligus.
Chris Sonderby, Vice President and Deputy General Counsel Meta, menegaskan bahwa perlindungan terhadap pengguna internet dari ancaman penipuan online menjadi prioritas utama perusahaan.
“Melindungi orang-orang di seluruh dunia dari online scams merupakan salah satu prioritas utama kami. Operasi gabungan yang diumumkan hari ini, yang mencakup penutupan lebih dari satu juta akun, pembekuan aset, dan lebih dari 60 penangkapan tersangka, menunjukkan betapa kuatnya kerja sama dalam memerangi para scammer. Kami bangga bisa bermitra dengan para pelaku industri serta U.S. Department of Justice (DOJ), FBI, Royal Thai Police, dan lembaga penegak hukum lainnya dalam membawa perjuangan global ini langsung ke pusat-pusat online scam yang berbasis di Asia ini,” tutur Chris, dikutip Jumat (5/6/2026).
Senada dengan itu, Police Lieutenant General Jirabhop Bhuridej menekankan bahwa kejahatan penipuan digital lintas negara tidak dapat ditangani oleh satu institusi atau satu negara saja.
“Ini menandai operasi gabungan ketiga kami bersama Meta dan mitra penegak hukum lintas sektor. Hasil yang dicapai menunjukkan kemajuan nyata dalam mengungkap dan menghentikan aktivitas sindikat penipuan online lintas negara. Kejahatan penipuan online transnasional tidak dapat ditangani oleh satu lembaga atau satu negara saja. Karena itu, kolaborasi yang kuat serta pertukaran informasi yang tepat waktu tetap menjadi faktor penting dalam membongkar jaringan-jaringan ini dan melindungi masyarakat,” paparnya.
Dari sisi industri teknologi, Microsoft melihat operasi ini sebagai bukti pentingnya sinergi lintas sektor dalam menghadapi ancaman kejahatan digital yang terus berkembang.
Steven Masada, Global Head of Microsoft's Digital Crimes Unit, mengatakan, operasi ini menunjukkan pentingnya kerja sama antara perusahaan teknologi dan penegak hukum.
“Meski jaringan online scams beroperasi di lintas platform dan lintas negara, Microsoft tetap berkomitmen untuk berkolaborasi dengan lembaga penegak hukum untuk memberikan informasi tentang modus-modus penipuan melalui inisiatif-inisiatif strategis, sehingga dapat melumpuhkan jaringan kriminal dalam skala besar dan menuntut pertanggungjawaban para pelakunya,” terangnya.
Baca Juga: Orang Tua Kini Bisa Lebih Tenang, Meta Perbarui Fitur Keamanan Akun Remaja
Sementara itu, Coinbase menyoroti peran teknologi blockchain dalam membantu penegak hukum melacak aliran dana para pelaku kejahatan.
Jeff Lunglhofer, Chief Security Officer Coinbase, menjelaskan, teknologi blockchain adalah salah satu tools paling tangguh untuk memerangi scam keuangan.
“Berbeda dengan sistem keuangan konvensional, transparansi dan karakteristik data transaksi yang tidak dapat diubah membuat para pelaku kejahatan tidak bisa bersembunyi karena setiap transaksi meninggalkan jejak. Transparansi itulah yang memungkinkan kami bekerja sama dengan penegak hukum untuk melacak, membekukan, dan menggagalkan jaringan kriminal tersebut,” ungkapnya.
Dukungan serupa juga datang dari Starlink. Lauren Dreyer, Vice President of Starlink Business Operations di SpaceX, menegaskan bahwa perusahaan menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap penyalahgunaan layanan.
“Sama seperti produk lainnya, risiko penyalahgunaan selalu ada dan bukanlah sesuatu yang hanya dihadapi Starlink. Starlink berkomitmen untuk menjembatani kesenjangan digital sembari tetap menerapkan kebijakan tanpa menoleransi penyalahgunaan dalam bentuk apapun,” ujarnya.
“Kami secara proaktif mendeteksi dan menonaktifkan perangkat yang terlibat dalam aktivitas ilegal, dan Kebijakan Penggunaan yang Dapat Diterima (Acceptable Use Policy) kami secara tegas melarang online scams dan tindakan kriminal. Melalui kerja sama dengan penegak hukum dan perusahaan teknologi, kami mendorong upaya global dalam memerangi online scams dan memastikan Starlink tetap menjadi bagian dari hal-hal yang bersifat positif,” lanjutnya.
Ke depan, tantangan memerangi online scam diperkirakan akan semakin kompleks. Para pelaku terus mengubah taktik dengan memanfaatkan berbagai aplikasi dan platform secara bersamaan untuk menghindari deteksi.
Karena itu, pendekatan yang melibatkan perusahaan teknologi, penyedia layanan internet, lembaga keuangan, pemerintah, dan aparat penegak hukum menjadi semakin penting.
Keberhasilan operasi ini menunjukkan bahwa kerja sama lintas sektor dapat memberikan hasil nyata dalam membongkar jaringan kriminal digital.
Perusahaan-perusahaan yang terlibat menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi serupa guna melindungi pengguna internet di seluruh dunia dari ancaman online scam yang terus berkembang.
Baca Juga: Bukan Sekadar Gaya, Ternyata Ini Alasan Psikologis di Balik Kaos Abu-abu Favorit Bos META