Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya penurunan jumlah kelas menengah Indonesia dari 57,33 juta orang pada tahun 2019 menjadi 47,80 juta orang pada 2024. Artinya, terjadi penurunan 9,48 juta orang atau 19,5 persen dalam 5 tahun dengan penurunan proporsi dari 21,45 persen menjadi 17,13 total masyarkat Indonesia.

Nur Hidayah, Kepala CSED INDEF, mengakui adanya dampak terhadap kemampuan berkurban tahun ini akibat menurunnya jumlah kelas menengah Indonesia yang mengindikasikan penurunan kemampuan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Friderica Widyasari Pastikan OJK Siap Dukung Pengembangan Ekonomi Daerah

“Kelas menengah adalah tulang punggung untuk partisipasi kurban dan tentu saja (penurunan jumlah kelas menengah) akhirnya berimplikasi. Ada kemungkinan sebagian orang menahan diri untuk tidak berkurban tahun ini, tapi diusahakan tahun depan,” ujarnya dalam diskusi daring pada Senin, 25 Mei 2026.

Pelemahan ekonomi kurban juga terlihat dari menurunnya pilihan hewan kurban yang dilakukan masyarakat. Hewan kurban dengan harga lebih murah menjadi alternatif bagi sebagian masyarakat muslim di Indonesia untuk tetap dapat berkurban.

Jaring Ekonomi Rakyat

Meski begitu, sebagai negara dengan mayoritas masyarakat beragama Islam, semangat berkurban bisa menjadi salah satu penjaga perekonomian nasional. Pasalnya, berkurban rutin dilakukan setiap tahun sehingga dengan pemahaman dan perencanaan finansial yang memadai, masyarakat Indonesia dapat menjaga kemampuan mereka dalam berkurban yang akan menggerakkan ekonomi baik di kota besar hingga pedesaan.

“Setiap kurban yang masuk memang sosial dan tentu saja, ini akan berjalan setiap tahun. Kurban seharusnya bisa menjangkau sosial distribusi pendapatan yang jauh, distribusi ekonomi, dan tentu saja akan mendorong orang untuk bekerja lebih cerdas, lebih keras untuk berkurban,” tegas Nur Hidayah.

Pemanfaatan Digitalisasi untuk Pendistribusian Hewan Kurban

Di tahun ini, IDEAS memproyeksikan nilai transaksi kurban mencapai Rp26,89 triliun lewat 1,59 juta ekor hewan. IDEAS juga memprediksi total daging sebanyak 99.290 ton yang akan didistribusikan. Sayangnya, sebagian besar daging kurban masih berpusat di Pulau Jawa.

“Untuk memperbaikinya, diperlukan digitalisasi yang berdampingkan dengan komunitas. Perlu sinergi kelembagaan antara penyelenggara ibadah kurban yang formal dengan informal sehingga terbentuk distribusi yang berkeadilan,” ujarnya menambahkan.

Nur Hidayah mengemukakan 4 pilar penting dalam upaya pemerataan hewan kurban di Indonesia:

  1. Digitalisasi yang berdampingan: 95,9% bayar offline. Bangun platform yang terintegrasi dengan panitia masjid, bukan menggantikan. Strategi: white-label, co-branded;
  2. Sinergi lembaga & masjid: gabungkan kemampuan LAZ/BAZNAS (formal) dengan akar rumput dan kepercayaan absolut masjid (informal);
  3. Edukasi agama sebagai penggerak: 58,5% siap meningkatkan kurban jika pemahaman agama meningkat. Gunakan masjid sebagai kanal edukasi primer, termasuk literasi gender dan maqashid spasial;
  4. Distribusi tepat sasaran: gunakan peta IDEAS untuk mendesain koridor alokasi khusus dari Jawa ke NTT, Maluku, dan Papua dengan tetap menghormati aulawiyat al-mahalliyah.