PT Credit Bureau Indonesia (CBI) menyelenggarakan CBI Connect 2026 di The St. Regis Jakarta. Forum tahunan ini mempertemukan lebih dari 150 eksekutif senior dan pemangku kepentingan utama dari ekosistem jasa keuangan Indonesia untuk bersama-sama membentuk masa depan credit intelligence.
Mengusung tema “Leading the Next Era of Credit Intelligence”, CBI Connect 2026 membahas keterbatasan penggunaan data pendapatan dalam proses penilaian dan analisis kredit (credit assessment dan underwriting), serta pentingnya penggunaan data yang lebih kaya dan menyeluruh agar lembaga keuangan dapat menyalurkan pembiayaan kepada lebih banyak masyarakat Indonesia secara bertanggung jawab.
Terdapat tiga tantangan struktural yang menjadi fokus pembahasan dalam forum ini. Pertama, 59,42% pekerja di Indonesia bekerja di sektor informal. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar calon peminjam tidak memiliki slip gaji atau catatan pekerjaan formal yang biasanya digunakan lembaga keuangan untuk menilai kemampuan menghasilkan pendapatan. Akibatnya, individu yang sebenarnya layak mendapatkan kredit berisiko tidak terlayani oleh model penilaian kredit konvensional.
Kedua, ketentuan baru OJK terkait pinjaman daring berbasis peer-to-peer (P2P) lending melalui SEOJK No. 19/2025, yang berlaku efektif pada 2026, memperketat batas rasio utang terhadap pendapatan maksimal sebesar 30%. Perubahan ini menuntut lembaga pemberi pinjaman untuk memiliki data pendapatan dan kemampuan pembayaran yang lebih akurat.
Ketiga, konsumen Indonesia saat ini mengalokasikan rata-rata 10,5% dari pendapatan mereka untuk membayar kewajiban utang yang sudah ada, berdasarkan data keyakinan konsumen Bank Indonesia. Bagi lembaga pemberi pinjaman, hal ini menunjukkan bahwa data pendapatan saja tidak cukup. Pemahaman terhadap kewajiban keuangan yang telah dimiliki calon peminjam juga sama pentingnya untuk mendukung pengambilan keputusan kredit yang tepat.
“Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengapresiasi penyelenggaraan CBI Connect 2026 sebagai forum strategis untuk memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mengembangkan ekosistem informasi perkreditan di Indonesia. Forum ini diharapkan dapat memperkuat peran Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (LPIP) melalui pengembangan credit intelligence dan pemanfaatan data berkualitas untuk mendukung strategi pengelolaan risiko kredit yang lebih komprehensif,” ujar Bayu Husodo, Direktur Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Perbankan, Departemen Perizinan dan Manajemen Krisis Perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Upaya tersebut penting untuk meningkatkan akurasi penilaian kelayakan kredit, mengidentifikasi risiko sejak dini, serta memperluas akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). OJK juga mengapresiasi inisiatif PT Credit Bureau Indonesia (CBI) melalui platform SME Bureau dalam membangun profil UMKM yang terstandarisasi dan transparan guna mendukung ekosistem pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan,” tambahnya.
Empat Solusi Baru untuk Menjawab Tantangan Kredit
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, CBI memperkenalkan empat solusi baru yang dirancang untuk membantu lembaga keuangan mengatasi keterbatasan informasi dalam proses penilaian kredit.
1. Income Predictor
Memanfaatkan data dari berbagai sumber untuk memperkirakan pendapatan bulanan calon peminjam. Solusi ini membantu lembaga keuangan memperkuat penilaian kemampuan pembayaran, khususnya bagi pekerja sektor informal yang mungkin tidak memiliki dokumentasi pendapatan konvensional.
2. Enhanced Bureau Alternative Score (EBAS)
Menggabungkan informasi biro kredit dengan wawasan perilaku dari aplikasi untuk menilai calon peminjam dengan riwayat kredit terbatas (thin-file borrowers). Solusi ini membantu lembaga keuangan mengidentifikasi calon peminjam yang layak memperoleh kredit dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko.
3. Skip Tracing
Menyediakan informasi kontak dan keterjangkauan calon peminjam atau debitur yang lebih lengkap dan terkini melalui CBI. Solusi ini membantu lembaga keuangan dan tim penagihan menemukan serta menghubungi debitur secara lebih efisien.
4. Agent Polar
Merupakan solusi AI dari CBI yang membantu lembaga keuangan menganalisis dan membandingkan kinerja portofolio kredit dengan tren industri. Dilengkapi laporan analisis mendalam dan notifikasi proaktif, Agent Polar mendukung identifikasi risiko serta pengambilan keputusan kredit yang lebih tepat.
“Berbagai tantangan yang dihadapi lembaga keuangan dalam memperluas inklusi keuangan menunjukkan bahwa penggunaan data yang tepat dari sumber yang eligible dan compliant adalah crucial untuk menilai kelayakan kredit di tengah kompleksitas kebutuhan pembiayaan masyarakat Indonesia. Inovasi CBI dalam Credit Intelligence memberikan informasi yang komprehensif mengenai profil calon peminjam berdasarkan data yang akurat, sehingga dapat meningkatkan pendapatan, menjaga kualitas kredit, dan tetap memenuhi ketentuan yang berlaku. Melalui CBI Connect, berbagai institusi yang berperan dalam ekosistem kredit Indonesia dipertemukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan data dan informasi kredit, memperluas akses pembiayaan bagi jutaan masyarakat yang belum terlayani secara optimal, sekaligus memastikan risiko dikelola secara bertanggung jawab,” ujar Anton K. Adiwibowo, Presiden Direktur CBI.
Dr. Aviliani, ekonom senior sekaligus pembicara dalam CBI Connect 2026, turut menyampaikan pandangannya, “Kepastian ke depan adalah ketidakpastian itu sendiri. Hal ini membuat agility dalam pengambilan kebijakan bisnis & publik menjadi sangat penting dan relevan. Cerita perekonomian Indonesia ke depan tidak hanya perlu menjaga aspek stabilitas di era higher, tighter, and longer atau aspek pertumbuhan tinggi saja. Namun, aspek pemerataan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui pemberdayaan sektor informal & UMKM menjadi relevan. Bagi lembaga keuangan, hal ini membuat kita perlu melihat lebih jauh dari skor biro kredit dan memahami realitas ekonomi debitur secara utuh.”
Seiring dengan upaya Indonesia memperluas akses pembiayaan, pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap profil calon peminjam menjadi semakin penting agar individu dan UMKM yang berpotensi berkembang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses kredit. Melalui solusi intelijen kreditnya, CBI mendukung lembaga keuangan dalam mengambil keputusan kredit yang lebih tepat dan mengelola risiko secara bijak. Dengan pendekatan ini, CBI berharap dapat turut mendorong akses pembiayaan yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku UMKM, sehingga mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan kesejahteraan.