PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga; IDX: BNGA) mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp2,3 triliun dan menghasilkan earnings per share Rp70,20 pada kuartal pertama tahun 2026.

Sementara itu, rasio current account savings account (CASA) sebesar 73,9% dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di bawah rata-rata industri, dan biaya kredit (cost of credit/CoC) yang tetap terjaga di bawah 1%.

Baca Juga: Citi Indonesia Catat Laba Bersih Rp2,8 Triliun sepanjang Tahun 2025

"Pertumbuhan pendapatan tetap terjaga stabil, didukung oleh strategi serta dedikasi seluruh karyawan kami dalam memberikan layanan optimal kepada seluruh nasabah dan stakeholders. Bisnis wealth management kami dalam melayani nasabah Preferred dan Private Wealth juga terus menunjukkan kinerja yang baik, tercermin dari rata-rata assets under management per nasabah yang terus meningkat, sekaligus memperkuat basis pendapatan kami yang semakin terdiversifikasi," ujar Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/5/2026).

CIMB Niaga senantiasa menjaga posisi permodalan dan likuiditas yang baik dengan capital adequacy ratio (CAR) dan loan to deposit ratio (LDR) masing-masing sebesar 25,3% dan 89,2%. Total aset konsolidasian adalah sebesar Rp368,2 triliun per 31 Maret 2026, memperkuat posisi CIMB Niaga sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia.

Total dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp260,1 triliun (+2,3% Y-o-Y), didorong oleh pertumbuhan CASA sebesar 12,2% Y-o-Y menjadi Rp192,3 triliun sehingga rasio CASA naik menjadi 73,9%. Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan CIMB Niaga dalam mempererat hubungan dengan nasabah serta meningkatkan pengalaman perbankan digital.

Sementara itu, total kredit/pembiayaan tumbuh 2,2% Y-o-Y menjadi Rp235,1 triliun, dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari Corporate Banking sebesar 4,8% Y-o-Y, diikuti segmen Usaha Kecil Menengah (UKM) sebesar 1,2% Y-o-Y, serta Consumer Banking sebesar 0,2% Y-o-Y. Pertumbuhan kredit/pembiayaan ritel terutama didorong oleh pertumbuhan Kredit Pemilikan Mobil (KPM) yang meningkat 4,0% Y-o-Y.

Di perbankan Syariah, Unit Usaha Syariah (“UUS”) CIMB Niaga ("CIMB Niaga Syariah") berhasil mempertahankan posisinya sebagai UUS terbesar di Indonesia, dengan total pembiayaan sebesar Rp52,9 triliun dan DPK sebesar Rp45,0 triliun per 31 Maret 2026. CIMB Niaga Syariah juga terus memperkuat struktur pendanaannya dengan meningkatkan dana murah melalui jaringan komunitas serta kemitraan strategis syariah, guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperluas pengembangan ekosistem keuangan syariah nasional.

Dari sisi keberlanjutan, CIMB Niaga menjalankan berbagai inisiatif terintegrasi untuk mendukung nasabah dan masyarakat, baik dari aspek lingkungan maupun sosial. Pada 1Q26, Bank mencatat pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp60,2 triliun atau hampir 26% dari total outstanding pembiayaan. Capaian ini mencerminkan ekspansi yang berkelanjutan pada sektor-sektor prioritas, termasuk energi terbarukan dan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (“UMKM”), serta pertumbuhan portofolio sustainability-linked loans. Hingga Maret 2026, pembiayaan UMKM mencapai Rp25,7 triliun atau sekitar 43% dari total portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank, menegaskan fokus kuat CIMB Niaga terhadap pembiayaan yang inklusif dan berdampak sosial.

“Perkembangan kami dalam pembiayaan berkelanjutan, dekarbonisasi, dan berbagai inisiatif sosial menunjukkan tekad CIMB Niaga untuk tumbuh secara bertanggung jawab sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Kami akan terus konsisten mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis, agar pertumbuhan yang kami capai dapat mendukung pembangunan yang inklusif dan memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang Indonesia,” pungkas Lani.