Matthew juga menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah campaign tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak orang melihat atau mengetahui campaign tersebut.
Menurutnya, kualitas interaksi dan kemampuan campaign mendorong konsumen untuk melakukan tindakan juga menjadi ukuran penting.
“Kalau kita, sebuah campaign bisa dibilang sukses adalah dari interaksinya. Seberapa besar interaksi yang kita mau, bukan cuma attract dari awal impression doang. Tapi dari kualitas engagement, orang rela ikut dan terkesan ikut di campaign, itu bisa dibilang campaign itu sukses,” katanya.
Selain engagement, kata dia, tingkat keberhasilan campaign juga perlu dilihat dari sisi konversi. Artinya, interaksi yang tercipta diharapkan dapat berlanjut menjadi keputusan konsumen untuk melakukan pembelian.
“Ability, the success level itu juga di-matrix dari conversion, gimana caranya orang itu bisa engage ke kita untuk bisa purchase,” ujar Matthew.
Di sisi lain, ketika berbicara mengenai generasi muda yang ingin meniti karier di bidang marketing, Matthew memberikan apresiasi terhadap kreativitas Gen Z.
Namun, menurutnya, ada satu kemampuan yang perlu terus diasah, yakni kemampuan mendengarkan dan memahami perspektif orang lain.
“Gen Z, you're very creative generation and I do admire you. But, for once mungkin the ability to listen, the ability to understand somebody's perspective is very important,” kata Matthew.
Ia menilai, kemampuan memahami sudut pandang orang lain menjadi semakin penting karena pekerjaan marketing pada dasarnya berkaitan erat dengan manusia. Seorang marketer tidak hanya dituntut kreatif dalam membuat kampanye, tetapi juga harus mampu memahami bagaimana orang lain berpikir dan mengambil keputusan.
“Gen Z itu punya difficulties memahami perspektif beberapa orang,” pungkasnya.
Baca Juga: Kunci Bangun Brand Kopi yang Kuat Menurut CMO FORE Coffee, Apa Saja?