Growthmates, banyak orang masih menganggap pemeriksaan kolesterol baru penting dilakukan ketika memasuki usia lanjut. Padahal, kadar kolesterol tinggi dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orang dewasa muda bahkan remaja. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena kolesterol yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah dan memicu penyakit serius.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, menjelaskan bahwa peningkatan kolesterol tidak mengenal batas usia.

Karena itu, pemeriksaan dan upaya pencegahan sebaiknya tidak menunggu seseorang memasuki usia lanjut atau mengalami gejala tertentu.

“Ada pertanyaan ke saya, Prof, sebaiknya usia berapa kita periksa kolesterol? Karena beberapa teman saya periksa kolesterol ternyata tinggi. Tapi tidak hanya itu, ternyata dia kemudian ada masalah di pembuluh darah kaki, ada bekuan di betis, nah jadi sudah relatif agak terlambat,” jelas Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Minggu (16/8/2026).

Menurutnya, kolesterol tinggi dapat ditemukan pada berbagai kelompok usia. Bahkan, seseorang yang masih berusia 20 tahun atau lebih muda pun dapat mengalami peningkatan kadar kolesterol.

“Ternyata bisa pada semua umur. Pada usia lanjut tentu saja bisa dan bisa diobati, obatnya sekarang banyak banget. Kemudian untuk pada usia muda, 20 tahun atau kurang, ternyata juga bisa terjadi peningkatan kolesterol,” jelasnya.

Salah satu jenis kolesterol yang perlu menjadi perhatian adalah LDL atau Low-Density Lipoprotein, yang kerap disebut sebagai kolesterol jahat. Ketika kadarnya terlalu tinggi, LDL dapat menumpuk di dinding pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan hingga penyumbatan.

“Dan disebut kolesterol yang jelek itu kolesterol total sama yang LDL. LDL itu seingatan dari Low Density Lipoprotein. Nah itu kalau tinggi itu menyebabkan pembuluh darah kita jadi diendapin oleh kolesterol itu sehingga menyempit dan bisa terjadi sumbatan,” kata Prof. Zubairi.

Penyumbatan pembuluh darah akibat penumpukan plak tersebut dapat berujung pada kondisi yang serius. Jika terjadi pada pembuluh darah yang memasok otak, penyumbatan dapat menyebabkan stroke. Sementara jika terjadi pada pembuluh darah jantung, kondisi tersebut dapat memicu serangan jantung.

“Kalau sumbatan di sini namanya stroke, kalau sumbatan di sini serangan jantung. Jadi memang konsekuensinya bisa serius,” tegasnya.

Baca Juga: Benarkah Telapak Tangan Berkeringat Dingin Tanda Penyakit Jantung? Begini Kata Dokter Tirta

Karena itu, Prof. Zubairi menekankan pentingnya membangun gaya hidup sehat sejak dini, bukan hanya ketika seseorang sudah memiliki kadar kolesterol tinggi atau mengalami masalah kesehatan.

dia, menjaga tubuh tetap aktif merupakan salah satu langkah penting untuk membantu mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit.

“Karena itu dari awal gaya hidup kita itu penting kita tata ulang. Artinya Anda sakit, Anda sehat, Anda apa harus tetap aktif. Keep moving,” ujarnya.

Aktivitas fisik pun perlu dilakukan secara rutin. Prof. Zubairi menyarankan orang sehat untuk berolahraga setidaknya 150 menit dalam sepekan. Selain olahraga, pola makan juga memiliki peran penting dalam menjaga kadar kolesterol.

“Kalau Anda sehat maka harus olahraga minimal 150 menit seminggu. Minimal paling sedikit. Kemudian kalau setiap kali makan kita perlu ada sayur dan ada buah. Setiap kali makan,” tuturnya.

Menurut Prof. Zubairi, kombinasi aktivitas fisik dan pola makan yang lebih sehat dapat membantu menjaga kadar kolesterol tetap terkendali. Namun, apabila perubahan gaya hidup belum cukup untuk menurunkan kadar kolesterol, penanganan medis tetap diperlukan.

“Itu akan bisa mengontrol kadar kolesterol. Nah kalau kemudian setelah gaya hidup sehat, udah olahraga, udah sayur, buah masih tinggi. Dokter akan memberikan obat untuk menurunkan kolesterol,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolesterol tinggi bukanlah kondisi yang tidak dapat ditangani. Saat ini tersedia berbagai pilihan obat yang dapat digunakan untuk membantu menurunkan kadar kolesterol sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.

“Banyak obat untuk kolesterol dan bisa diobati,” pungkas Prof. Zubairi.

Baca Juga: Dokter Ungkap Kebiasaan Sepele Setelah Makan yang Ampuh Menjaga Gula Darah Tetap Stabil