Sepanjang semester I-2026, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mencatat kenaikan produksi listrik 13,62 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), catatkan 2.745 gigawatt-hour (GWh) dari 2.416 GWh pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencetak availability factor sebesar 99,71 persen, capacity factor sebesar 90,42 persen, serta unplanned outage rate yang terjaga rendah pada level 0,11 persen.

Capacity factor PGE berada jauh di atas rata-rata perusahaan panas bumi global yang umumnya berkisar antara 75 hingga 80 persen. Pertumbuhan produksi ditopang oleh kontribusi hampir seluruh wilayah operasi PGE, termasuk Kamojang, Ulubelu, Lahendong, Karaha, serta kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juni 2025. Produksi Lumut Balai Unit 1 dan 2 meningkat 108,2 persen secara YoY, didukung oleh operasi penuh Unit 2, peningkatan permintaan listrik, serta pasokan uap yang andal.

Baca Juga: Pertamina Marine Solutions Jalin Dua Kerja Sama Strategis dengan Xingtong Group

“PGE memiliki sumber daya panas bumi lebih dari 3 gigawatt (GW), salah satu portofolio terbesar di dunia saat ini. Prioritas kami adalah mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas pembangkit yang bermanfaat bagi masyarakat. Visi kami jelas, yakni menjadikan PGE sebagai world leading geothermal producer dengan roadmap pertumbuhan yang terukur. Kami menargetkan kapasitas terpasang 1 GW pada 2028, 1,8 GW pada 2033, dan terus tumbuh hingga Indonesia menjadi negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia,” ungkap Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis (6/8/2026).

Pada 2026, PGE menargetkan produksi listrik dan uap terkonsolidasi mencapai 5.255 GWh, tumbuh sekitar 3,14 persen secara YoY dan berpotensi menjadi rekor produksi tertinggi Perseroan. Target tersebut ditopang oleh kontribusi penuh Lumut Balai Unit 2 sepanjang tahun serta berbagai inisiatif untuk meningkatkan keandalan dan mengoptimalkan load factor pembangkit.

Laba Bersih Tumbuh 15,48 Persen

Pertumbuhan produksi turut terefleksi pada kinerja keuangan Perseroan. Mengacu pada laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, PGE membukukan pendapatan sebesar US$235,027 juta, tumbuh 14,7 persen secara YoY.

Pertumbuhan pendapatan yang kuat, didukung disiplin operasional yang berkelanjutan, mendorong laba bersih Perseroan meningkat 15,48 persen secara YoY menjadi US$79,605 juta. Laba kotor Perseroan turut meningkat 8,11 persen menjadi US$130,4 juta.

Ringkasan kinerja keuangan PGE per 30 Juni 2026:

  • Pendapatan : US$235,027 juta
  • Laba Bersih : US$79,605 juta
  • Total Aset : US$2,967 miliar
  • Ekuitas : US$2,006 miliar
  • Kas dan Setara Kas : US$656,634 juta

Saat ini, Perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, terdiri atas 727 MW yang dioperasikan langsung oleh PGE dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Tiga proyek strategis PGE, yaitu PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta Lahendong Unit 7 dan 8 (50 MW), telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, mengatakan, “Dengan portofolio sumber daya yang besar, pipeline proyek yang matang, dan eksekusi yang disiplin, PGE optimistis mencapai target pertumbuhan kapasitas. Sepanjang semester pertama tahun ini, kami berfokus pada empat pilar utama, yaitu commercial readiness, subsurface readiness, executionreadiness, dan project funding, untuk memastikan setiap proyek berjalan optimal dan berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, kami berupaya memastikan setiap proyek memiliki tingkat kesiapan yang semakin tinggi sebelum memasuki tahap investasi maupun tahap eksekusi proyek."