Misalnya, ketika anak mulai beranjak remaja, orang tua dapat mengingatkan agar tidak pulang terlalu malam atau berhati-hati ketika berada di tempat yang sepi.

“Oke untuk beberapa hal misalnya dengan nasihat gini, ‘Kamu jangan pulang malam ya, Papa akan tunggu. Hati-hati ya kalau kamu ke tempat-tempat yang sepi kayak gitu.’” kata dr. Boyke.

Menurut dr. Boyke, pesan-pesan tersebut sebenarnya merupakan bagian dari pendidikan seksual karena mengajarkan anak untuk memahami situasi yang berpotensi membahayakan dirinya.

Orang tua juga dapat memberikan pemahaman mengenai perbedaan karakteristik laki-laki dan perempuan, termasuk bagaimana seseorang dapat mengalami rangsangan seksual.

“Namanya juga laki-laki, kita kasih tahu bahwa laki-laki itu mudah terangsang. Dan betul-betul hal yang seperti itu. Tapi kalau kita kasih tahu mereka itu, itu adalah pendidikan seks tapi secara tidak langsung,” tutur dr. Boyke.

Menurut dr. Boyke, pendekatan tidak langsung tersebut dinilai penting karena pendidikan seksual bukan sekadar membicarakan hubungan seksual.

Lebih jauh, pendidikan seksual dapat menjadi proses untuk membangun pemahaman anak mengenai tubuhnya, menjaga batasan, mengenali situasi yang tidak aman, serta belajar mengambil keputusan yang dapat melindungi dirinya.

Baca Juga: Waspada Child Grooming, Ini Tanda-Tanda Anak Menjadi Korban Manipulasi Seksual