Buku Islam Ala Prabowo:Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam Mendadak menjadi perbincangan publik dalam satu dua hari belakangan kendati buku itu telah lama terbit, sederet kontroversi mulai mengemuka setelah buku yang diluncurkan di Jakarta pada 26 Agustus 2025 disoal berbagai pihak.
Salah satu yang turut mempertanyakan buku tersebut adalah politisi PDI-Perjuangan Mohamad Guntur Romli. Dia menyebut buku itu mencatut tiga nama ulama yang sama sekali tidak dilibatkan dalam penyusunan buku tersebut.
Baca Juga: Habis Kebakaran Hutan, Muncul Perkebunanan Baru, Punya Siapa Tuh Pak Prabowo?
Ketiga nama yang disebut dicatut adalah Gus Kautsar, Tuan Guru Bajang (TGB) atau KH Muhammad Zainul Majdi, dan Prof KH Said Aqil Siradj.
“Ketiganya menegaskan tidak pernah dilibatkan dan diminta tulisan dalam buku tersebut,” ujar Guntur dilansir Rabu (9/9/2026).
Pencatutan nama sebuah karya tulis atau karya ilmiah kata Guntur Romli bukan sesuatu yang bisa dipandang enteng, itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan intelektual.
“Ini bukan sekadar kesalahan redaksional. Melainkan pencatutan nama yang pantas disebut kejahatan intelektual,” kata Guntur.
Ia melihat situasi tersebut berpotensi kontraproduktif terhadap Presiden Prabowo. Buku yang dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi justru dapat memunculkan kritik apabila terdapat tokoh yang namanya dicantumkan tanpa merasa terlibat.
“Alih-alih Presiden Prabowo mendapatkan poin positif yang ada kritik keras hingga ejekan,” ujar Guntur.
Karena itu, Guntur mengingatkan presiden agar tidak serta-merta menerima setiap bentuk apresiasi yang diberikan kepadanya. Menurut dia, ada perbedaan antara pihak yang benar-benar ingin memberikan penghargaan dengan pihak yang justru dapat membawa persoalan baru
“Presiden Prabowo mestinya hati-hati pada segelintir orang yang benar-benar mau memberikan apresiasi dan pengakuan dengan mereka yang ingin menjatuhkan,” kata Guntur.
Baca Juga: Ketika MBG Meminta Tumbal: Anak Berprestasi Kehilangan 70 Persen Ingatan Setelah Keracunan
Peringatan tersebut menjadi bagian penting dari kritik Guntur terhadap buku Islam Ala Prabowo. Ia menilai presiden perlu melihat lebih jauh siapa saja yang berada di balik sebuah produk yang menggunakan namanya dan membawa narasi tertentu mengenai dirinya.