Pandangan bahwa generasi muda, khususnya Gen Z, takut menikah semakin sering terdengar. Namun, menurut Conscious Marriage Consultant sekaligus Certified Couple Therapist, Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Rani menjelaskan bahwa Gen Z sebenarnya bukan menolak pernikahan. Mereka hanya memiliki cara pandang yang berbeda, yakni realistis dan penuh pertimbangan.
"Walaupun ada yang bilang pernikahan itu menakutkan, itu kan kata-kata dari Gen Z ya, tapi ternyata masih banyak juga kok yang mau menikah," ungkap Rani, dikutip dari laman Instagram @parentalk.id, Kamis (26/3/2026).
"Gen Z itu bukan nggak mau menikah, tapi dia lebih realistis, pragmatis, jadi dia lebih mau mempersiapkan diri. Yang mana bagus,” lanjut Rani.
Menurut Rani, sikap ini justru menunjukkan kematangan berpikir.
Gen Z kata dia, dinilai lebih sadar akan pentingnya kesiapan sebelum memasuki hubungan jangka panjang, termasuk kesiapan mental dan emosional.
Kesadaran terhadap kesehatan mental juga menjadi faktor penting yang membedakan generasi ini dengan generasi sebelumnya.
Baca Juga: Cara Pandang Nucha Bachri Tentang Sosok Ibu
Dikatakan Rani, mereka tidak lagi memandang pernikahan sebagai sekadar kewajiban sosial, melainkan sebagai keputusan besar yang harus selaras dengan kondisi diri.
"Mereka lebih aware soal mental health. Jadi bukan berarti dia nggak mau, tapi lebih ke arah, apa sih yang mau dituju dalam keluarga," jelasnya.
Lebih jauh, Rani menekankan bahwa pada dasarnya setiap manusia tetap membutuhkan pasangan hidup. Namun, standar dalam memilih pasangan kini semakin tinggi.
"Gak ada satupun manusia yang nggak butuh teman hidup. Semua manusia butuh teman hidup. Cuma sekarang teman hidup yang bagaimana? Kebanyakan orang butuh teman hidup yang betul-betul kita percaya, kita punya tujuan bersama," ungkapnya.
Rasa aman dan nyaman, lanjutnya, menjadi fondasi utama dalam hubungan yang sehat. Untuk mencapainya, pasangan perlu membangun batasan yang jelas dalam hubungan.
"Rasa aman dan nyaman. Untuk membangun rasa aman dan nyaman, kita butuh boundaries," tandas Rani.
Baca Juga: Cara Gen X, Gen Y, dan Gen Z Traveling Ternyata Berbeda, Ini Temuan Jenius Study 2026