Karena itu, penguatan efikasi diri tidak terlepas dari lingkungan tempat anak tumbuh. Di rumah, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan tugas sesuai dengan usianya, tanpa terburu-buru mengambil alih ketika anak mengalami kesulitan.

Prinsip serupa juga dapat diterapkan dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Kegiatan bermain yang memberikan tantangan sesuai kemampuan anak, bantuan secara bertahap, serta apresiasi terhadap proses belajar dapat menjadi bagian dari pengalaman yang membantu anak membangun keyakinan terhadap kemampuannya sendiri.

Salah satu keunikan penelitian Zahro adalah kemampuannya mengintegrasikan delapan faktor yang berkaitan dengan anak, keluarga, dan lingkungan ke dalam satu model kesejahteraan psikologis anak usia dini. Model tersebut kemudian menjadi dasar dalam penyusunan model peningkatan efikasi diri dan kesejahteraan psikologis anak.

Ketua Komisi Pembimbing, Prof. Megawati Simanjuntak, menilai, temuan tersebut membuka peluang untuk pengembangan penelitian dan praktik pendampingan anak pada masa mendatang.

“Kesejahteraan psikologis anak tidak terbentuk oleh satu faktor saja. Temuan tentang efikasi diri ini menarik karena menunjukkan bahwa kapasitas anak berkembang bersama pengalaman yang dibentuk keluarga dan lingkungannya. Ke depan, temuan ini perlu diuji lebih lanjut agar dapat diterjemahkan menjadi praktik yang benar-benar bermanfaat bagi keluarga dan PAUD,” paparnya.

Zahro menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut masih perlu diuji pada wilayah dan karakteristik keluarga yang lebih beragam melalui penelitian lanjutan. Meski demikian, ia berharap temuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai model akademik, tetapi juga dapat memberikan perspektif bagi orang tua dan pendidik dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

“Pesan dasarnya sederhana, bahwa anak perlu memperoleh pengalaman bahwa dirinya mampu. Tugas orang dewasa bukan memastikan anak selalu berhasil, tetapi menyediakan lingkungan yang aman untuk mencoba, menghadapi kesulitan, mendapat dukungan, dan terus berkembang,” pungkasnya.

Baca Juga: Jangan Salah Respons, Ini 5 Perbedaan Tantrum, Meltdown, dan Overload pada Anak