Selain risiko penyakit jantung, pasien diabetes juga perlu mewaspadai gangguan fungsi ginjal.
Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, Subsp. EMD(K), FINASIM, FACP, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, mengatakan kerusakan ginjal akibat diabetes sering kali berjalan perlahan tanpa gejala pada tahap awal.
“Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak jaringan ginjal secara bertahap, seperti filter yang aus seiring waktu. Karena pasien sering tidak merasakan kelainan pada tahap awal, pemeriksaan ginjal sebaiknya dilakukan secara proaktif, bukan menunggu sampai muncul gejala,” ujar Dr. dr. Soebagijo.
Ia menambahkan, pasien diabetes perlu rutin memantau tiga indikator penting, yaitu HbA1c untuk melihat rata-rata kendali gula darah, UACR untuk mendeteksi kebocoran protein dalam urine sejak dini, serta eGFR untuk menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah.
Sementara itu, Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, Sp.PK, menilai edukasi kesehatan memiliki peran besar dalam mencegah komplikasi diabetes.
“Edukasi diabetes tidak boleh berhenti pada penurunan kadar gula darah saja. Pasien dan keluarga perlu memahami bahwa diabetes dapat secara diam-diam memengaruhi jantung, ginjal, pembuluh darah, dan kualitas hidup secara keseluruhan,” ujar dr. Maria.
Ia menambahkan bahwa Siloam Hospitals Surabaya terus berkomitmen mendukung upaya diagnosis dini, edukasi pasien, serta layanan kesehatan terpadu melalui kolaborasi berbagai dokter spesialis dan fasilitas medis yang tersedia.
Di kesempatan yang sama, Baik In-hyun, Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division, mengatakan, kegiatan edukasi ini merupakan bagian dari komitmen Daewoong dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan komplikasi diabetes.
“Ketika pasien memahami sejak dini hubungan antara diabetes dan komplikasi yang berkembang secara diam-diam, mereka dapat memulai langkah pencegahan sebelum terjadi kerusakan organ yang tidak dapat dipulihkan,” kata Baik.
“Daewoong akan terus berperan bukan hanya dalam memastikan pasokan terapi kardiovaskular inovatif dan terapi diabetes tipe 2 yang dikembangkan secara mandiri, tetapi juga sebagai mitra tepercaya dalam membangun masyarakat yang lebih sehat,” lanjutnya.
Sebagai bagian dari upaya memperluas pilihan terapi, Daewoong sebelumnya telah meluncurkan kombinasi dosis tetap ezetimibe dan rosuvastatin untuk membantu pasien dengan kebutuhan kontrol LDL-C yang ketat berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.
Selain itu, terapi diabetes tipe 2 enavogliflozin 0,3 mg yang dikembangkan secara mandiri oleh Daewoong telah memperoleh persetujuan dari BPOM RI dan dijadwalkan memasuki pasar pada semester pertama tahun ini.