Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) membuka kesempatan bagi perguruan tinggi di seluruh Indonesia, khususnya lembaga pendidikan yang belum pernah bermitra dengan BPDP untuk berpartisipasi sebagai calon lembaga penyelenggara program pengembangan sumber daya manusia (SDM) perkebunan tahun 2027.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan BPDP berkomitmen untuk memperluas jaringan kemitraan pendidikan sekaligus memperkuat pelaksanaan program pengembangan SDM perkebunan yang telah berjalan sejak tahun 2015 tersebut.

"Kita ingin dari Sabang sampai Merauke ada keterwakilan perguruan tinggi. Kita akan optimalkan lagi perluasan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga pelatihan baru pada tahun 20227 mendatang," katanya di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Baca Juga: BPDP Salurkan Rp12,48 Triliun untuk Peremajaan Sawit Rakyat, Sasar Hampir 197 Ribu Pekebun

Alfansyah memastikan BPDP berkomitmen untuk meningkatkan akses pendidikan, mengembangkan kompetensi, serta mendorong terwujudnya SDM perkebunan yang profesional dan berdaya saing melalui perluasan jaringan kemitraan pendidikan tersebut.

"Kami berharap setiap peserta program pengembangan SDM terutama beasiswa bisa terserap di sektor perkebunan, pabrik, hingga industri hilir kelapa sawit," tuturnya.

Sebagai langkah awal upaya tersebut, BPDP menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Seleksi Lembaga Penyelenggara Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2027 (Call for Proposal). Kegiatan tersebut melibatkan Komite Pengembangan SDM Perkebunan, perwakilan Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta sejumlah lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan.

Melalui kegiatan tersebut, BPDP memberikan pemahaman mengenai arah kebijakan program tahun 2027, persyaratan kelembagaan, mekanisme pengajuan proposal, hingga tahapan seleksi. Sosialisasi ini sekaligus menjadi sarana untuk mendorong partisipasi lebih luas dari lembaga pendidikan yang memiliki kompetensi dan fasilitas pendukung di bidang perkebunan.

BPDP secara khusus mendorong perguruan tinggi baru yang memiliki program studi relevan dengan kebutuhan industri perkebunan untuk memanfaatkan kesempatan ini.

"Kehadiran lebih banyak lembaga pendidikan diharapkan dapat memperluas pilihan penyelenggara pendidikan, meningkatkan jangkauan program, serta memperkuat pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat perkebunan di berbagai daerah," ujar Alfansyah.

BPDP mengajak perguruan tinggi dan lembaga pelatihan yang memenuhi persyaratan, khususnya lembaga yang belum pernah terlibat dalam program sebelumnya, untuk mempersiapkan dokumen dan mengajukan proposal sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Melalui perluasan kemitraan ini, BPDP berharap semakin banyak lembaga pendidikan dan pelatihan yang berkontribusi dalam mencetak SDM perkebunan yang kompeten, profesional, dan berdaya saing guna mendukung produktivitas serta keberlanjutan sektor perkebunan Indonesia.

"Kita sangat yakin bahwa ruang pasar tenaga kerja di sektor kelapa sawit masih sangat terbuka. Jadi, kita harus memiliki SDM banyak dan unggul untuk mewujudkan keberlanjutan di industri kelapa sawit," pungkas Alfansyah.

Perlu diketahui, pada tahun 2026 Program Pendidikan SDM Perkebunan BPDP telah melibatkan 44 perguruan tinggi penyelenggara yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan penerimaan sebanyak 5.000 mahasiswa baru melalui program beasiswa. Capaian tersebut menjadi salah satu landasan bagi BPDP untuk terus memperkuat pelaksanaan program melalui perluasan kemitraan dengan lembaga pendidikan yang kompeten dan memenuhi persyaratan.

Perguruan tinggi yang dapat mengikuti proses seleksi meliputi akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas yang menyelenggarakan pendidikan pada jenjang Diploma I hingga Diploma IV serta Strata 1 (S1).

Calon lembaga penyelenggara pendidikan diharapkan memiliki program studi atau bidang keahlian yang relevan dengan sektor perkebunan kelapa sawit, akreditasi sesuai ketentuan, izin penyelenggaraan pendidikan, serta dukungan tenaga pendidik dan sarana prasarana yang memadai. Bidang kompetensi yang menjadi perhatian antara lain budidaya tanaman, pembibitan, teknologi pengolahan hasil, teknik mesin, teknik kimia, agribisnis, akuntansi, teknologi informasi, hingga penyuluhan dan komunikasi pertanian.

Beragam bidang tersebut mencerminkan kebutuhan pengembangan SDM perkebunan yang tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga aspek pengelolaan, teknologi, dan peningkatan nilai tambah. Selain lembaga pendidikan, BPDP juga membuka kesempatan bagi lembaga pelatihan yang memenuhi persyaratan untuk berpartisipasi dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2027.

Program pelatihan pada tahun 2027 akan diperluas dengan mencakup tiga komoditas perkebunan, yakni kelapa sawit, kakao, dan kelapa. Perluasan ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi teknis, manajerial, dan kewirausahaan, sekaligus mendukung pengembangan sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing di sektor perkebunan Indonesia. 

Pelaksanaan seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pengajuan proposal, seleksi administrasi, seleksi substantif, hingga penetapan lembaga penyelenggara. Proses tersebut dilaksanakan untuk memastikan lembaga terpilih memiliki kapasitas dan kesiapan dalam menyelenggarakan program sesuai ketentuan yang berlaku.

Pendaftaran dan pengajuan proposal calon lembaga penyelenggara Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2027 dibuka pada 9–30 November 2026, dengan batas akhir penyampaian proposal pada 30 November 2026 pukul 23.59. Seluruh proses pengajuan proposal dilakukan secara daring melalui aplikasi LENTERA BPDP pada laman lentera.bpdp.or.id.

Adapun, Komite Pengembangan SDM Perkebunan, Sri Gunawan, menegaskan bahwa pengembangan SDM merupakan kebutuhan utama di sektor perkebunan nasional, khususnya terkait dengan perkembangan teknologi dan tuntutan peningkatan produktivitas.

"Saat ini kita perlu meningkatkan kualitas SDM baik dari sisi SDM petani dan juga generasi penerus. Pengembangan SDM petani melalui jalur pelatihan. Kemudian generasi muda atau penerus melalui program beasiswa.

Sri Gunawan mengharapkan setiap program pengembangan SDM perkebunan yang diinisiasi oleh BPDP dapat menjawab kebutuhan industri sekaligus mendorong penyerapan sektor tenaga kerja.

"Harapan kami para peserta program dapat langsung bekerja di industri kelapa sawit mulai dari hulu sampai hilir," pungkasnya.