Beras premium kemasan 5 kilogram (kg) disebut mulai sulit ditemukan di sejumlah tempat. Kondisi ini ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan kekhawatiran masyarakat, mengingat beras merupakan salah satu kebutuhan pokok.
Guru Besar Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, mengatakan, kabar mengenai kelangkaan suatu produk dapat memengaruhi perilaku konsumen.
Ketika mengetahui barang yang biasa dibeli mulai sulit ditemukan, konsumen cenderung terdorong untuk segera membeli atau menambah stok.
“Ketika kemasan 5 kg mulai langka, masyarakat pasti langsung merasa khawatir. Apalagi kalau masyarakat sudah mendengar barang mulai susah dicari, biasanya langsung terpikir untuk membeli atau menyetok lebih banyak,” kata Prof. Megawati, dikutip dari laman IPB University, Senin (21/9/2026).
Menurut Prof. Megawati, kemasan 5 kg menjadi salah satu pilihan yang banyak diminati karena dianggap sesuai dengan kebutuhan rumah tangga. Ukuran tersebut relatif praktis untuk disimpan dan digunakan, sementara jumlahnya dinilai cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kemasan 5 kg lebih praktis disimpan dibandingkan kemasan yang lebih besar. Lalu biasanya ukuran 5 kg ini mereknya banyak dan konsumen punya preferensi sendiri untuk beras yang disukai, sehingga banyak konsumen lebih memilih kemasan 5 kg,” tambahnya.
Ketika kemasan yang biasa dibeli sulit ditemukan, konsumen memiliki sejumlah pilihan. Mereka tidak selalu langsung membeli dalam jumlah besar, tetapi dapat mencari produk pengganti yang masih dianggap sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan membeli.
“Ada dua arah perpindahan yang mungkin terjadi terkait fenomena ini,” jelasnya.
Baca Juga: Pede! Mentan Pede Indonesia Ekspor Beras Tahun Ini
Pertama, konsumen dapat beralih ke ukuran kemasan lain dari merek yang sama, seperti kemasan 10 kg. Dengan pilihan tersebut, konsumen tetap bisa mendapatkan merek yang biasa dikonsumsi, meski harus mengeluarkan biaya lebih besar dalam satu kali pembelian.
Kedua, konsumen dapat berpindah ke produk yang sebelumnya belum menjadi pilihan, salah satunya beras SPHP dari Bulog yang memiliki harga lebih terjangkau.
Prof. Megawati juga mengingatkan bahwa sulitnya menemukan beras kemasan 5 kg tidak serta-merta menunjukkan persediaan beras nasional habis atau mengalami kekurangan.
Kondisi di lapangan dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk biaya produksi dan distribusi.
Di sisi lain, informasi mengenai kelangkaan yang terus beredar dapat membentuk persepsi konsumen. Jika tidak diimbangi informasi yang jelas, situasi tersebut berpotensi mendorong panic buying, ketika masyarakat membeli bukan semata karena kebutuhan, melainkan karena khawatir produk akan semakin sulit diperoleh.
Karena itu, Prof. Megawati mengimbau masyarakat untuk tetap membeli beras sesuai kebutuhan dan tidak ikut menimbun akibat kekhawatiran.
“Masyarakat tidak perlu terlalu panik atau ikut-ikutan menimbun. Beli sesuai kebutuhan saja. Kalau merek yang biasa dibeli tidak tersedia, bisa mempertimbangkan alternatif yang kualitas dan harganya masih sesuai,” tuturnya.
Selain perilaku konsumen, kejelasan informasi dari pemerintah juga menjadi penting dalam kondisi seperti ini.
Informasi mengenai ketersediaan dan harga beras yang disampaikan secara transparan dapat membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan dan kondisi nyata di lapangan, bukan semata-mata karena rumor atau kekhawatiran kehabisan stok.