Menurut Prof. Zubairi, kebutuhan vitamin D3 umumnya lebih tinggi pada negara dengan paparan sinar matahari minim, terutama saat musim dingin.
Sementara di negara tropis seperti Indonesia, paparan sinar matahari sehari-hari sebenarnya sudah membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami.
“Di bawah kulit kita ada provitamin D3 yang akan menjadi vitamin D3 kalau kena matahari. Duduk di teras saja sebenarnya sudah cukup,” katanya.
Prof. Zubairi juga mengungkapkan hasil penelitian terkait vitamin E pada perokok. Awalnya, vitamin E diyakini dapat membantu mencegah kanker paru pada perokok. Namun, hasil penelitian justru menunjukkan risiko yang berbeda.
“Ternyata perokok yang minum vitamin E teratur ini lebih cepat meninggal,” ujar Prof. Zubairi.
Karena itu, Prof. Zubairi menekankan bahwa kunci utama menjaga kesehatan bukanlah mengandalkan suplemen, melainkan menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten.
“Yang paling penting adalah hidup sehat. Sayur, buah, olahraga, stop rokok, stop alkohol,” kata Prof. Zubairi.
Ia pun menutup pesannya dengan mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan fisik sekaligus mental.
“Banyak teman dan hati yang gembira,” tutupnya.
Baca Juga: Dari Stroke Hingga Jantung, Ini Perbedaan Risiko Darah Tinggi dan Darah Kental Menurut Dokter Ahli