Growthmates, anggapan bahwa sering minum es dapat membuat perut buncit ternyata tidak sepenuhnya benar.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, masalahnya bukan terletak pada suhu minuman, melainkan pada kandungan gula dalam minuman yang dikonsumsi.

“Kalau yang diminum tadi minum air es, pada umumnya tidak. Tetapi sekarang orang jarang minum air es doang. Yang diminum adalah teh botol ditambah es, Coca-Cola ditambah es, atau kopi dikasih es,” ungkap Prof. Zubairi, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya, Senin (24/8/2026).

Prof. Zubairi menuturkan, minuman kemasan seperti teh manis, minuman bersoda, maupun kopi dengan tambahan gula umumnya memiliki kandungan gula yang tinggi.

Jika dikonsumsi berlebihan, kata dia, asupan gula dan kalori pun akan menumpuk di dalam tubuh dan dapat berkontribusi terhadap penambahan lemak, termasuk di area perut.

“Intinya adalah di dalam minuman-minuman kemasan dalam botolan itu kadar gulanya tinggi banget. Bukan hanya tinggi, tinggi banget,” tegasnya.

Menurut Prof. Zubairi, kebiasaan mengonsumsi tiga hingga empat botol minuman manis dalam sehari dapat membuat asupan gula menjadi berlebihan.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes dan kenaikan berat badan.

Baca Juga: Dokter Ungkap 2 Makanan yang Dianggap Sehat untuk Anak tapi Perlu Dibatasi, Apa Saja?

“Kalau kita minum tiga atau empat botol sehari, maka terjadi akumulasi gula darah yang tinggi. Itu bisa menimbulkan penumpukan kalori, kemudian jadi lemak-lemak, sehingga perutnya membuncit,” jelasnya.

Prof. Zubairi juga mengingatkan bahwa perut buncit, terutama jika disertai kurangnya aktivitas fisik, tidak sebaiknya dianggap sekadar persoalan penampilan.

Menurutnya, penumpukan lemak di area perut berkaitan dengan risiko kesehatan yang lebih serius.

Karena itu, Prof. Zubairi menyarankan agar konsumsi minuman manis kemasan dibatasi.

“Boleh, tapi minuman sebotol saja sehari paling banyak,” katanya.

Prof. Zubairi pun menambahkan, tingginya risiko kesehatan akibat konsumsi minuman berpemanis membuat sejumlah negara menerapkan pajak tambahan terhadap produk tersebut.

Kebijakan itu, lanjut dia, bertujuan meningkatkan harga minuman manis sehingga konsumsinya dapat ditekan.

“Di banyak negara, di Amerika, Inggris, Singapura, Malaysia, dan banyak negara lain, pajaknya tinggi banget sehingga harga minuman botol itu mahal. Dengan begitu, orang tidak banyak mengonsumsi, sehingga bisa tercegah diabetes dan perut buncit,” pungkas Prof. Zubairi.

Baca Juga: Lupus atau Alergi? Dokter Ahli Jelaskan Perbedaan Gejala dan Pemeriksaannya