PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatatkan laba bersih sebesar Rp565,69 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, total aset hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp18,97 triliun, tumbuh 8,99% secara tahunan (yoy) dibandingkan Rp17,41 triliun pada Desember 2024.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, menyampaikan bahwa capaian sepanjang 2025 merupakan hasil dari strategi transformasi bisnis yang dijalankan secara konsisten dengan menitikberatkan pada pertumbuhan yang berkualitas serta pengelolaan risiko yang disiplin.

Baca Juga: Laba DSNG Meroket 60,2 Persen Sepanjang 2025

"Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Bank Neo Commerce dalam memperkuat fundamental bisnis dan memastikan bahwa setiap langkah pertumbuhan yang kami lakukan tetap berada dalam koridor kehati-hatian. Kami akan terus memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta menjaga disiplin dalam pengelolaan risiko dan menjaga tata kelola yang baik sebagai landasan utama dalam mendukung pertumbuhan jangka panjang dan melanjutkan momentum pencapaian positif hingga ke tahun-tahun selanjutnya," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp14,03 triliun, meningkat 7,37% yoy dari Rp13,06 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan dana tabungan yang mencapai Rp3,50 triliun, naik dari Rp3,09 triliun pada Desember 2024, serta deposito yang tetap terjaga di level Rp9,86 triliun.

Selain itu, BNC terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Hingga akhir 2025, tercermin dari NPL Net yang tetap terkendali pada level 0,89%. Kondisi likuiditas yang kuat tercermin pada Loan to Deposit Ratio (LDR) pada level 51,21% dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 614,93%.

Profitabilitas Melonjak

BNC mencatatkan peningkatan signifikan pada profitabilitas dengan laba bersih tahun berjalan (YTD) meningkat 2.745% menjadi sebesar Rp565,69 miliar, meningkat tajam dibandingkan Rp19,88 miliar pada tahun 2024.

Dari sisi efisiensi, rasio BOPO membaik signifikan menjadi 84,18%, dibandingkan 99,34% pada tahun sebelumnya. Cost to Income Ratio (CIR) tercatat stabil di 31,33%, sementara Net Interest Margin (NIM) berada pada 14,39%. Kinerja profitabilitas juga tercermin pada Return on Assets (ROA) yang meningkat menjadi 3,11% dari 0,10%, serta Return on Equity (ROE) yang meningkat menjadi 15,13% dari 0,59% pada tahun sebelumnya.

BNC mempertahankan posisi permodalan yang kuat dengan modal inti sebesar Rp4,03 triliun, meningkat dari Rp3,32 triliun pada tahun sebelumnya. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat 49,07%, meningkat signifikan dibandingkan 35,30% pada tahun sebelumnya yang disebabkan oleh peningkatan Laba Bersih. Struktur permodalan yang solid ini memberikan ruang yang memadai bagi Perseroan untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan.

Memasuki tahun 2026, BNC akan menitikberatkan strategi pada penyaluran kredit yang berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. "Salah satu inisiatif strategis yang tengah kami siapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dengan mitra yang direncanakan hadir pada pertengahan tahun 2026, sebagai bagian dari upaya kami dalam memperluas akses pembiayaan yang aman, terukur, dan relevan dengan kebutuhan nasabah," tutup Eri.