Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka peluang impor minyak bumi dari negara tetangga Brunei Darussalam. Hal itu dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional
Bahlil mengatakan, kedua belah pihak tengah menjajaki opsi tersebut, kendati belum ada keputusan yang jelas namun Pemerintah Indonesia menaruh minat besar untuk mendatangkan minyak dari Brunei. Salah satu alasannya karena Brunei memiliki kapasitas produksi minyak sekitar 100 ribu hingga 110 ribu barrel per hari.
Baca Juga: Bahlil: Saya Mau Nyaleg di Pemilu 2029
Bahlil sudah mengutarakan hal ini kepada Pemerintah Brunei lewat Wakil Menteri (Energi) di Kantor Perdana Menteri Brunei Darussalam Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah di sela-sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026) waktu setempat.
"Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman," kata Bahlil dalam keterangannya Senin (16/6/2026).
Bahlil menegaskan, Brunei menjadi salah satu negara produsen migas terbesar di kawasan ASEAN, negara tersebut lanjut Bahlil tertarik dengan langkah transformasi energi Indonesia. Brunei tertarik mempelajari pengalaman RI dalam mengembangkan diversifikasi pembangkit energi, khususnya yang berasal EBT.
Kata Bahlil, Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi.
"Brunei memanfaatkan 99 persen dari gas untuk pembangkit listriknya dan ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas untuk pembangkitnya," ungkap Bahlil.
Ke depan, ia menyebut Brunei sedang mempersiapkan untuk meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit nasionalnya hingga 5 kali lipat dari kapasitas eksisting, atau ingin menambah 4 gigawatt (GW) dari kapasitas terpasang yang sekarang sebesar 1 GW.
Bahlil menambahkan Brunei juga tertarik dengan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang diterapkan PT Pertamina (Persero) untuk meningkatkan produksi minyak di sumur-sumur tua. Ia siap memfasilitasi Brunei untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan plat merah tersebut.
"Kami siap melakukan kerja sama untuk sharing pengalaman dan pengetahuan untuk berbicara teknis, nanti akan saya siapkan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar," ujarnya.
Baca Juga: Bahlil Tak Ingin Jadi Cawapres di Pemilu 2029, Lebih Pilih Nyaleg dari Papua
Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi mengungkapkan ketertarikan negaranya terhadap teknologi EOR karena sejauh ini Brunei belum memanfaatkan chemical flooding seperti EOR untuk meningkatkan produksi minyak.
"Kita tertarik di Indonesia, sebab ada teknologi EOR yang sudah diterapkan. Kita sudah menggunakan water flooding dan kita percaya kita bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR," ujarnya.