Atelier of Minds (AoM), pusat after-school care dan enrichment inklusif di Jakarta Selatan, menjalin kerja sama strategis dengan Agape Psychology, klinik psikologi berbasis di Singapura.

Kemitraan ini bertujuan memperkuat layanan pendidikan inklusif melalui integrasi pendekatan neuro-affirming, yakni sebuah metode yang menekankan penerimaan terhadap keberagaman cara belajar anak ke dalam praktik pendampingan anak di Indonesia.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam menjawab kebutuhan akan layanan pendidikan yang lebih inklusif dan menyeluruh, terutama bagi anak dengan kebutuhan belajar yang beragam.

Diketahui, kebutuhan terhadap layanan pendidikan inklusif di Indonesia terus meningkat. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 1 dari 100 anak mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD).

Sementara itu, Kementerian Kesehatan memperkirakan sekitar 2,4 juta anak di Indonesia berada dalam spektrum autisme.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya sistem pendidikan yang mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan belajar anak. Namun, akses terhadap program terpadu yang menggabungkan pembelajaran akademik dan dukungan perkembangan sosial-emosional masih terbatas.

Banyak keluarga masih kesulitan menemukan layanan yang memahami perkembangan anak secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi akademik.

Kerja sama antara Atelier of Minds dan Agape Psychology diharapkan dapat menjawab kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang lebih terintegrasi.

Menghadirkan Pendekatan Neuro-Affirming

Melalui kolaborasi ini, Atelier of Minds akan memperkuat pendekatan inklusifnya dengan mengadopsi praktik neuro-affirming yang telah berkembang di Singapura.

Pendekatan ini menekankan pemahaman terhadap perbedaan cara belajar anak serta strategi pembelajaran yang lebih individual untuk membantu membangun rasa percaya diri sejak dini.

Co-founder Atelier of Minds, Chatrine Hogan, menjelaskan bahwa penerimaan terhadap keberagaman neurologis menjadi landasan utama berdirinya lembaga tersebut.

“Kami mendirikan Atelier of Minds sebagai ruang aman bagi setiap anak, agar mereka dapat dipahami dan dihargai tanpa memandang perbedaan gaya belajar," terang Chatrine Hogan.

Menurutnya, kebutuhan akan lingkungan belajar yang tidak hanya mengakomodasi, tetapi juga menerima keberagaman semakin mendesak.

“Melalui kolaborasi dengan Agape Psychology, kami belajar dari kerangka lingkungan inklusif di Singapura yang telah berjalan baik. Harapannya, kami tidak hanya berkontribusi pada pengembangan anak, tetapi juga membantu orang tua dan pengajar memiliki pemahaman serta praktik yang lebih percaya diri dalam mendampingi generasi muda dengan beragam kebutuhan," lanjutnya.

Baca Juga: Perbandingan Inklusi Disabilitas di Indonesia dan United Kingdom

Kolaborasi Profesional Lintas Negara

Kolaborasi ini tidak hanya difokuskan pada penguatan kapasitas internal lembaga, tetapi juga melibatkan peran keluarga sebagai bagian penting dalam proses perkembangan anak.

Atelier of Minds berencana menyelenggarakan serangkaian lokakarya bagi orang tua yang akan dipandu oleh psikolog senior dari Agape Psychology.

Melalui program tersebut, orang tua akan mendapatkan pemahaman praktis mengenai pendekatan neuro-affirming untuk mendukung kebutuhan emosional dan perkembangan anak di rumah.

Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan kesinambungan antara lingkungan belajar dan lingkungan keluarga, sehingga anak memperoleh dukungan yang konsisten.

Tim Agape Psychology memiliki pengalaman lebih dari satu dekade di sektor publik dan swasta di Singapura. Mereka dikenal dengan pendekatan yang berbasis empati serta berlandaskan prinsip neuro-affirming.

Dalam kerja sama ini, psikolog klinis dan psikolog pendidikan dari Agape Psychology akan bekerja sama dengan tim Atelier of Minds untuk mengembangkan kurikulum, melatih teknik intervensi dini bagi staf, serta menciptakan lingkungan belajar yang semakin inklusif.

Direktur Klinik Agape Psychology, Jeremy Ang, menekankan bahwa kolaborasi ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan berkembang secara optimal.

“Setiap anak dan keluarga berhak menjalani kehidupan yang bermakna, dan perjalanan tersebut dimulai dari pemahaman serta penerimaan," ungkap Jeremy Ang.

Ia juga menegaskan bahwa pendekatan yang dibawa bukan sekadar menyalin model dari luar negeri, melainkan membangun sistem yang sesuai dengan konteks Indonesia.

“Kami sangat antusias untuk berkolaborasi dengan tim Atelier of Minds yang memiliki visi positif. Tujuan kami adalah menerjemahkan praktik neuro-affirming yang telah kami kembangkan secara mendalam di Singapura ke dalam dunia pendidikan Indonesia. Ini bukan tentang menerapkan model asing, melainkan tentang bersama-sama membangun kerangka kerja yang berkelanjutan dan peka terhadap budaya, sehingga anak-anak Indonesia dapat berkembang secara baik dalam sisi akademis, sosial, dan emosional," pungkasnya.

Baca Juga: Capek tapi Harus Tetap On? The Finer Society Tawarkan Sanctuary Wellness untuk High Achievers