Diabetes merupakan kondisi ketika kadar gula darah dalam tubuh berada pada tingkat tinggi dan berisiko merusak berbagai organ jika tidak dikelola dengan baik. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat di Indonesia.
Pada 2024, diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Tanah Air hidup dengan diabetes melitus. Data International Diabetes Federation (IDF) juga mencatat jumlah diabetesi di Indonesia mencapai 19,5 juta dan diproyeksikan meningkat hingga 28,6 juta pada 2045 jika tidak ada intervensi yang efektif.
Meski demikian, harapan tetap ada. Bagi para diabetesi, menjalani pola hidup sehat sangat dianjurkan untuk mengendalikan kadar gula darah. Bahkan, pada penderita diabetes tipe 2, yang selama ini kerap dianggap tidak bisa disembuhkan, sebagian pasien berpeluang mengalami remisi diabetes.
Baca Juga: Hati-hati, Obesitas di Usia Produktif Tingkatkan Risiko Diabetes dan Penyakit Jantung
Apa Itu Remisi Diabetes?
Remisi diabetes adalah kondisi ketika kadar gula darah kembali terkendali tanpa ketergantungan pada obat-obatan. Seseorang disebut mengalami remisi jika, meski masih berstatus diabetesi, kadar gula darahnya dapat tetap terkontrol tanpa terapi obat setidaknya selama tiga bulan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Founder Sobat Diabet, dr. Rudy Kurniawan, Sp.PD, MM, MARS, Dip.TH, Dip.SN, DCD, FINASIM, FRSPH, IDF-F, menjelaskan bahwa semua diabetesi bisa melakukan remisi diabetes, terutama para penderita diabetes tipe 2.

“Remisi diabetes dapat dicapai oleh banyak orang, terutama mereka yang mengidap diabetes tipe 2. Hal ini karena diabetes tipe 2 umumnya berkaitan erat dengan pola hidup, seperti kebiasaan makan dan kondisi kesehatan secara keseluruhan,” ujar dr. Rudi dalam agenda Beat Diabetes 2026 Tropicana Slim, Minggu (12/4/2026).
Ketika kadar gula darah dapat terkontrol tanpa obat selama minimal tiga bulan, lanjut dr. Rudi, dan nilai HbA1c berada di bawah 6,5 persen, kondisi tersebut menunjukkan bahwa remisi diabetes memungkinkan untuk dicapai. Artinya, peluang ini terbuka bagi siapa saja, selama pengelolaannya dilakukan dengan baik.
Sementara itu, pada diabetes tipe 1, kondisi yang terjadi berbeda. Tubuh tidak mampu memproduksi insulin atau jumlahnya sangat terbatas, sehingga tetap membutuhkan asupan insulin dari luar.
“Dua-duanya kalau memang mendapatkan kesempatan yang sama dengan pengobatan yang lebih mutakhir itu berarti dua-duanya juga memiliki kesempatan yang sama untuk remisi diabetes,” jelasnya.
Baca Juga: Sering Haus dan Lapar? Waspadai Gejala 3P yang Jadi Tanda Awal Diabetes
Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Saat Jalani Remisi Diabetes?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, remisi diabetes ditandai dengan kondisi ketika kadar gula darah dapat tetap terkontrol tanpa bantuan obat selama minimal tiga bulan. Artinya, diabetesi tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar kadar gula darah tidak kembali melonjak.
Rudi pun menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalani pola hidup sehat, mulai dari menjaga pola makan, rutin berolahraga, hingga memastikan waktu istirahat yang cukup.
“Aktivitas olahraga disarankan dilakukan lima kali dalam seminggu, dengan durasi minimal 30 menit setiap sesi. Dari jumlah tersebut, dua sesi sebaiknya berupa latihan beban. Jadi, tidak hanya olahraga kardio seperti lari, tetapi juga perlu meningkatkan massa otot agar pembakaran gula dalam tubuh menjadi lebih optimal,” tuturnya saat ditemui awak media.

Selain itu, kebiasaan buruk juga perlu dihindari, seperti merokok dan gaya hidup sedentari atau kurang bergerak. Untuk pola makan, prinsipnya tetap sama, yakni memperhatikan porsi, pola, serta jenis makanan agar tetap sehat dan seimbang.
Baca Juga: Penderita Diabetes Wajib Tahu, 12 Makanan Ini Diam-diam Bikin Gula Darah Melonjak
Remisi Diabetes Bisa Dilakukan Dalam Jangka Panjang?
Kondisi remisi diabetes bukan hanya dapat dicapai, tetapi juga berpeluang untuk dipertahankan dalam jangka panjang. Selama individu tetap konsisten menjalani pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan dan rutin berolahraga, kondisi tersebut bisa terus berlanjut.
Meski demikian, pemantauan tetap menjadi hal penting. Pemeriksaan secara berkala, setidaknya setiap tiga bulan, diperlukan untuk memastikan kadar gula darah tetap terkontrol dan kondisi tetap stabil.
“Dengan kondisi hidup sehat, bisa terus-terusnya (melakukan remisi diabetes), tetapi tetap harus dipantau setiap 3 bulan minimal,” imbuh dr. Rudi.