Bayang-bayang ancaman abrasi di utara Jakarta semakin nyata. Perlu ada aksi bersama yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menanggulangi ancaman tersebut.
Warga Pulau Pari, Saimat alias Boy, mengisahkan abrasi telah menghilangkan salah satu pulau kecil di Gugus Pulau Pari. Ia mengatakan, sekitar 40 tahun lalu ada sebuah pulau di sekitar Pantai Pasir Perawan, bagian utara Pulau Pari. Hanya saja, pulau tersebut kini telah menghilang karena terkikis dan terendam oleh air laut.
"Waktu SD ada pulau di sini yang bisa untuk berkemah. Sekarang tidak bisa lagi karena abrasi. Ombak dan air laut mengikis pulau itu," katanya kepada Olenka di Pulau Pari, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Buku Tentang Krisis Iklim Dunia, Mau Coba Baca?
Saimat menambahkan, abrasi juga telah menenggelamkan Pulau Gosong Karangjong di Gugus Pulau Pari. Dahulu nelayan kerap menjadikan pulau tersebut sebagai lokasi singgah untuk beristirahat dan menyantap ikan hasil tangkapan. Pulau tersebut juga merupakan tempat singgah dan bertelur para penyu.
"Sekarang pulau tersebut sudah hilang karena terkikis oleh air laut," ujarnya.
Pria yang lahir dan tumbuh besar di Pulau Pari ini menuturkan, abrasi memberikan dampak langsung kepada warga seperti air tanah menjadi asin, bibir pantai semakin tergerus, rumah warga terancam tenggelam, hingga kerusakan ekosistem lingkungan.
Dampak abrasi juga terlihat jelas di tepi Pantai Rengge, sebelah barat Pulau Pari. Pohon-pohon di tepi pantai ini terpantau mati. Kemudian bibir pantai pun terlihat semakin tergerus karena kenaikan muka air laut.
"Kita kan pengguna air tanah, air sumur menggali sendiri. Karena abrasi maka air sumur menjadi semakin asin. Rumah warga juga ada yang mau tenggelam," tuturnya.
Pria yang berprofesi sebagai pemandu wisata ini mengatakan, secara umum warga Pulau Pari memiliki kesadaran atas ancaman abrasi. Oleh karena itu, warga Pulau Pari secara swadaya kerap menanam pohon mangrove untuk menyelamatkan ruang hidup mereka dari ancaman abrasi. Meski demikian, warga Pulau Pari perlu mendapat dukungan dari pemerintah dan sektor swasta.
"Warga bergotong-royong menanam pohon mangrove di sekitar Pulau Pari. Selain swadaya, kami mendapat dukungan dari pemerintah dan swasta untuk menanam mangrove," tuturnya.
Boy memastikan, warga Pulau Pari sadar apabila mangrove sangat penting untuk mencegah kampung mereka terendam air laut. Selain itu, ia menjelaskan penanaman mangrove bisa berdampak positif kepada warga yang berprofesi sebagai nelayan karena area pohon mangrove kerap dijadikan tempat berkembang biak dan mencari makan oleh ikan.
Rentan Tenggelam
Perlu diketahui, Kepulauan Seribu memiliki karakteristik pulau dataran rendah yang mengakibatkan area tersebut rentan tenggelam oleh kenaikan permukaan air laut dan gelombang yang mengabrasi bibir-bibir pantai. Kerentanan tersebut semakin diperparah oleh krisis iklim yang terjadi belakangan ini. Krisis iklim mempercepat proses kenaikan permukaan air laut, badai, gelombang tinggi, serta menyebabkan cuaca ekstrem.
Berdasarkan laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), abrasi telah menghilangkan 4,6 hektare atau sekitar 11 persen dari total 43,2 hektare luas daratan di Pulau Pari. Walhi memprediksi jika sebagian besar Pulau Pari akan terendam pada tahun 2050 mendatang. Hal itu karena permukaan air laut di Teluk Jakarta mengalami kenaikan hampir 10 sentimeter selama periode 2004 hingga 2010.
Founder Pojok Sosial Ekologi, Ica Wulansari, mengatakan kawasan utara Jakarta perlu belajar dari pesisir Demak yang telah mengalami kehilangan lahan lebih dari 50 ribu hektare sebagai akibat dari kombinasi abrasi, penurunan tanah, dan gejala krisis iklim secara bersamaan. Jika tidak ada aksi nyata yang dilakukan maka bukan tidak mungkin apabila bagian utara Jakarta akan mengalami kondisi seperti pesisir Demak tersebut.
"Ancaman tenggelamnya pesisir Demak telah perlahan-lahan terjadi. Maka dengan belajar dari kasus abrasi pesisir Demak, untuk identifikasi ancaman abrasi di Jakarta maupun Kepulauan Seribu maka persiapan mitigasi dan adaptasi yang memihak kepada kepentingan warga pesisir Kepulauan Seribu dan Jakarta Utara menjadi prioritas," kata Ica kepada Olenka di Jakarta, Minggu (16/3/2025).
Ica Wulansari mengakui, persoalan abrasi di utara Jakarta merupakan permasalahan yang kompleks sebagai dampak dari pembangunan, pertumbuhan populasi, fenomena urbanisasi, hingga krisis ekosistem lingkungan yang ditandai dengan penurunan tanah, sedimentasi, dan banjir rob.
"Di samping itu, gejala krisis iklim berupa ketidakpastian cuaca termasuk terjadinya gelombang pasang dan fenomena lingkungan hidup lainnya turut menyebabkan sedimentasi dan abrasi," jelasnya.
Mencegah Abrasi
Ica Wulansari mengatakan, pemerintah perlu memiliki pemetaan dan rancang bangun prioritas kawasan yang terkena abrasi di utara Jakarta. Melalui pemetaan tersebut, mitigasi dan adaptasi dibangun berdasarkan kebutuhan warga terutama warga pesisir Jakarta. Ia menekankan, pemetaan tersebut jangan hanya menitikberatkan pada teknologi semata melainkan harus mempertimbangkan secara berhati-hati pada sistem sosial dan ekologi.
"Pertama, teknologi yang dibangun membuat bangunan breakwater untuk menghadapi abrasi namun dengan pemeliharaan bangunan yang memadai agar dapat menangkal sedimentasi," tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu membangun tanggul pesisir namun dengan tetap menyediakan infrastruktur perlindungan pantai bagi kawasan permukiman nelayan dan publik. Selain itu, ia menyarankan pemerintah untuk meningkatkan pemantauan dan kerja rutin secara konkret dalam hal pengerukan sedimentasi daerah aliran sungai, melakukan pengelolaan sampah, hingga pemeliharaan fasilitas untuk keamanan warga pesisir.
Dosen di Universitas Paramadina ini mencontohkan Dusun Senik dan Tambaksari di Kabupaten Demak yang berhasil menghijaukan kawasan dengan ekowisata mangrove sehingga dapat bertahan dibandingkan kawasan lain di Demak yang telah menghadapi abrasi.
"Pemerintah, warga, dan sektor swasta perlu memperbanyak menanam mangrove untuk menangkal abrasi dan kikisan air laut," pungkasnya.