Posisi Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri kembali menarik perhatian ketika pembicaraan mengenai Pilpres 2029 mulai menghangat. Di tengah munculnya sejumlah nama yang diprediksi masuk bursa calon wakil presiden, keberadaan Listyo di pucuk pimpinan Polri dinilai menyimpan kemungkinan politik tersendiri.
Pengamat politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio atau Hensat bahkan melihat Listyo Sigit sebagai salah satu figur nonpartai yang berpeluang dipertimbangkan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi calon wakil presiden.
Bukan tanpa alasan. Hensat menilai posisi Listyo yang hingga kini masih dipercaya sebagai Kapolri dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa dirinya memiliki nilai strategis di mata Prabowo.
"Kapolri bisa saja diambil jadi calon pendamping Prabowo dan ini bisa jadi alasan kuat mengapa Listyo Sigit tidak tergantikan sebagai Kapolri saat ini," kata Hensat dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Baca Juga: Ada Teddy, Listyo Sigit, hingga Sudaryono, Prabowo Banyak Pilihan Cawapres 2029 Nih!
Dengan kata lain, bertahannya Listyo di posisi strategis tersebut bisa saja tidak hanya dilihat dari sisi kinerja kepolisian. Ada kemungkinan Prabowo juga mempertimbangkan pengalaman, loyalitas, serta posisi politik Listyo jika nantinya membutuhkan figur nonpartai untuk mendampinginya pada Pilpres 2029.
Meski demikian, Hensat tidak menyebut pencalonan Listyo sebagai keputusan yang sudah final. Ia menempatkan mantan Kabareskrim tersebut sebagai salah satu figur yang berpotensi masuk dalam pertimbangan Prabowo.
Menurut Hensat, Prabowo setidaknya memiliki dua jalur dalam menentukan cawapres untuk Pilpres 2029. Selain memilih kader Partai Gerindra, Prabowo dapat mempertimbangkan tokoh nonpartai yang dinilai loyal dan tidak memiliki ambisi politik terlalu besar.
"Menurut saya dia mungkin akan memilih tokoh dari partainya sendiri, Gerindra atau tokoh nonpartai yang tidak memiliki ambisi politik besar sehingga bisa fokus bekerja," ujarnya.
Baca Juga: Diimingi-imingi Jabatan Menteri Kepolisian, Kapolri Listyo: Lebih Baik Saya Menjadi Petani
Jika jalur nonpartai yang dipilih, selain Listyo, Hensat menyebut nama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Teddy memiliki modal kedekatan dan loyalitas kepada Prabowo. Sementara Amran dinilai memiliki nilai politik karena kinerjanya sebagai Menteri Pertanian kerap mendapat apresiasi dari Presiden.
Namun, Listyo memiliki keunggulan yang berbeda. Sebagai Kapolri, ia berada di posisi strategis dalam pemerintahan dan memiliki pengalaman panjang dalam struktur keamanan negara.
Karena itu, bertahannya Listyo sebagai Kapolri hingga saat ini dinilai menarik untuk dicermati jika dikaitkan dengan peta politik menuju 2029.
Di sisi lain, Hensat menilai Prabowo tetap memiliki opsi untuk memilih kader Gerindra sendiri. Pilihan tersebut dinilai dapat memperkuat partai besutan Prabowo hingga Pemilu 2034.
Sejumlah nama dari internal Gerindra yang disebut berpotensi masuk radar antara lain Menteri Luar Negeri sekaligus Sekretaris Jenderal Gerindra Sugiono, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono, dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono. Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga dinilai layak diperhitungkan karena memiliki basis massa yang besar.
Namun jika Prabowo justru memilih figur nonpartai, nama Listyo Sigit bisa menjadi salah satu yang patut diperhatikan.
Pasalnya, menurut Hensat, keputusan Prabowo mempertahankan seseorang di posisi strategis seperti Kapolri dapat menjadi bagian dari kalkulasi politik yang lebih panjang. Apakah Listyo memang hanya akan terus menjadi orang nomor satu di Korps Bhayangkara, atau justru tengah dipersiapkan untuk naik satu tingkat ke panggung Pilpres 2029?
Untuk saat ini, jawabannya masih menjadi spekulasi. Namun, posisi Listyo yang belum tergantikan membuat namanya sulit diabaikan ketika bursa cawapres Prabowo mulai diperbincangkan.