Yang lebih penting, menurut Vidjongtius, seorang CEO setidaknya perlu memiliki pemahaman dasar mengenai keuangan.

Ia tidak harus menguasai seluruh detail pembukuan, sebab perusahaan memiliki direktur atau tim keuangan yang menangani aspek teknis tersebut.

Namun, CEO tetap perlu mampu membaca kondisi dan tren keuangan perusahaan untuk memahami dampak dari keputusan bisnis yang diambil.

“Tapi dia tahu, dia bisa melihat trend misalnya gitu ya. Dia tidak mengerti pembukuan, gak apa-apa. Karena ada direktur keuangan kan,” paparnya.

“Tapi dia harus mengerti, si CEO-nya itu harus mempelajari lah. Sehingga dia sedikit banyak mengetahui mengenai keuangan. Sehingga akan mempermudah dalam proses pengambilan keputusan,” lanjutnya.

Dengan pemahaman tersebut, seorang CEO dapat melihat bisnis tidak hanya dari sisi pertumbuhan, tetapi juga dari sisi kesehatan keuangannya.

Vidjongtius mengingatkan bahwa pertumbuhan bisnis yang terlihat tinggi belum tentu menunjukkan perusahaan berada dalam kondisi yang sehat.

Salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan adalah apakah pertumbuhan tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan dan arus uang yang memadai.

“Karena kalau bisnis tidak menghasilkan untung, dia tidak akan sustain. Seolah pertumbuhannya tinggi, tapi uangnya gak ada. Hilang di mana? Nah ini kan perlu dicari,” ungkapnya.

Di sinilah, menurutnya, peran orang dengan kompetensi keuangan menjadi penting. Mereka dapat membantu perusahaan menelusuri ke mana uang mengalir dan mengapa pertumbuhan bisnis tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi keuangan.

“Jadi partner ini harus jadi satu. Jadi kalau tidak bisa sendirian, yaudah berdua gitu ya,” katanya.

Kolaborasi antara pemimpin yang memahami bisnis dan partner yang kuat di bidang keuangan, lanjut Vidjongtius, pada akhirnya dapat membantu perusahaan melihat pergerakan bisnis secara lebih utuh.

“Sehingga bisa melihat lebih komprehensif pergerakan bisnis tersebut,” pungkasnya.

Baca Juga: Cara Menghadapi Krisis Bisnis ala Vidjongtius