Setelah mencapai level tertinggi dalam satu dekade pada tahun lalu, jumlah transaksi merger & akuisisi (M&A) yang diumumkan maupun diselesaikan di sektor jasa keuangan secara global kembali meningkat pada paruh pertama tahun ini. Berdasarkan analisis terbaru EY mengenai M&A di sektor jasa keuangan, jumlah transaksi yang dilaporkan meningkat 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bank, perusahaan asuransi, dan manajer asset di berbagai pasar jasa keuangan utama dunia mengungkapkan secara publik sebanyak 1.137 transaksi pada Semester I 2026, dibandingkan 1.101 transaksi pada Semester I 2025. Namun demikian, total nilai transaksi yang diungkapkan untuk sektor jasa keuangan di tingkat global menurun dari US$191,3 miliar pada Semester I 2025 menjadi US$134,5 miliar pada Semester I 2026. Sebanyak 25 megadeal dengan nilai di atas US$1 miliar diumumkan dan mewakili 80% dari total nilai transaksi. Angka ini dibandingkan dengan 37 transaksi bernilai di atas US$1 miliar pada Semester I 2025 dan 55 transaksi pada Semester II 2025.
Baca Juga: Riset Prudential: Baru 45% Masyarakat Indonesia Merasa 'Merdeka' Finansial
Sepanjang Semester I 2026, 10 transaksi terbesar secara global menyumbang 58% dari total nilai transaksi (US$78,7 miliar). Jika diperluas ke 20 transaksi terbesar, kontribusinya mencapai 75% dari total nilai transaksi (US$100,5 miliar). Kondisi ini relatif konsisten dengan Semester I 2025, ketika 10 transaksi terbesar menyumbang 58% dari total nilai transaksi (US$111,3 miliar), sementara 20 transaksi terbesar menyumbang 72% dari total nilai transaksi (US$138,3 miliar).
Omar Ali, EY Global Financial Services Leader, mengatakan, "Perusahaan jasa keuangan kini telah beradaptasi untuk beroperasi dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi dengan memasukkan volatilitas ke dalam kegiatan operasional sehari-hari. Meskipun jumlah transaksi meningkat, nilai transaksi di berbagai pasar utama dunia pada Semester I tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan tahun 2025 karena jauh lebih sedikit transaksi yang mencapai nilai di atas US$1 miliar. Namun, di tengah berbagai tantangan pasar, tingkat kepercayaan mulai stabil dan para jajaran pengambil keputusan dalam perusahaan ingin mempercepat pelaksanaan rencana strategis mereka."
Aktivitas M&A Sektor Financial Services di Indonesia
Di Indonesia, aktivitas M&A sektor jasa keuangan terus ditopang oleh konsolidasi yang didorong regulator, khususnya melalui upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat permodalan bank-bank kecil dan perusahaan multifinance. Tingginya minat investor terhadap pasar jasa keuangan Indonesia yang masih relatif belum terpenetrasi juga terus mendukung aktivitas transaksi. Transaksi-transaksi penting belakangan ini, seperti akuisisi portofolio wealth dan premier banking HSBC Indonesia oleh OCBC serta akuisisi portofolio kredit pensiun SMBC Indonesia oleh BTN, menunjukkan berlanjutnya minat investor.
Reuben Tirtawidjaja, EY-Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner, mengatakan, "Saat ini, semakin banyak strategic buyer yang mencari akses ke jaringan distribusi, lisensi untuk memasuki bisnis jasa keuangan yang berdekatan, serta jangkauan nasabah yang lebih luas, bukan sekadar mengejar skala aset."
Minat terhadap sektor Wealth and Asset Management juga semakin meningkat pada Semester I 2026, seiring investor yang ingin menangkap peluang dari bertumbuhnya segmen affluent di Indonesia dan meningkatnya permintaan terhadap wealth products. Hal ini menandai pergeseran menuju model bisnis berbasis fee yang lebih ringan modal dan memiliki potensi pertumbuhan struktural, sejalan dengan tren yang lebih luas di sektor jasa keuangan global. Ke depan, sepanjang sisa tahun 2026, peluang tambahan diperkirakan akan muncul dari konsolidasi yang terus berlangsung serta ekspansi pemain mapan ke segmen nasabah baru.
Reuben menambahkan, "Kesenjangan valuasi antara buyer dan seller masih menjadi tantangan, khususnya karena investor semakin memperhitungkan risiko geopolitik dan tantangan makroekonomi seperti volatilitas mata uang serta tekanan terhadap peringkat kredit Indonesia. Meski demikian, kami memperkirakan minat yang berkelanjutan pada sektor Wealth and Asset Management, asuransi termasuk insurtech, di mana peningkatan persyaratan minimum ekuitas mendorong konsolidasi, multifinance, serta platform pembayaran dan pinjaman digital. Hal ini akan dilengkapi dengan konsolidasi yang terus berlanjut di kalangan bank-bank kecil sebagai respons terhadap persyaratan skala yang ditetapkan regulator."
Sementara itu, di pasar Asia dan Oseania, aktivitas M&A menurun pada Semester I 2026, dengan jumlah transaksi yang diumumkan secara publik turun 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi 147 transaksi dibandingkan 170 transaksi pada Semester I 2025. Total nilai transaksi yang diungkapkan juga turun secara moderat, dari US$17,8 miliar pada Semester I 2025 menjadi US$15,8 miliar pada Semester I 2026.
Di Asia Tenggara (SEA), aktivitas M&A tetap stabil pada Semester I 2026, dengan jumlah transaksi yang diumumkan secara publik tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 31 transaksi. Namun, total nilai transaksi yang diungkapkan turun dari US$1,6 miliar pada Semester I 2025 menjadi US$936 juta pada Semester I 2026.
Stuart Last, EY-Parthenon Partner, Financial Services, Ernst & Young Solutions LLP, mengatakan, "Stabilnya aktivitas M&A di sektor jasa keuangan di Asia Tenggara mencerminkan pasar yang tetap aktif meskipun menghadapi volatilitas ekonomi dan geopolitik. Meskipun nilai transaksi yang diungkapkan menurun pada Semester I 2026, aktivitas M&A tetap terkonsentrasi pada transaksi berskala kecil hingga menengah."
"Hal ini menunjukkan bahwa investor mengejar peluang dengan landasan strategis yang jelas, sekaligus mencerminkan pendekatan yang tetap disiplin dalam melakukan transaksi. Meski demikian, kami memperkirakan peningkatan transaksi berskala besar pada paruh kedua tahun 2026 seiring membaiknya kondisi pendanaan serta semakin banyak aset berskala besar yang masuk ke pasar," pungkasnya.