Lontaran material vulkanik, lanjut Lana, dapat menimbulkan kerusakan pada peralatan yang berada di dekat pusat aktivitas. Material tersebut juga dapat membahayakan keselamatan orang yang memasuki kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona terlarang.

"Lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapapun yang masuk zona terlarang," tegasnya.

Selain itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berpotensi mengalami fluktuasi maupun peningkatan. Hal ini terlihat dari sejumlah jenis gempa yang masih terekam dalam pemantauan aktivitas gunung api.

"Aktivitas berpotensi berfluktuasi dan meningkat ini karena gempa frekuensi rendah dan juga hibrid, harmonik, serta tremor masih terekam," ujar Lana.

Lana menjelaskan, kemunculan jenis kegempaan tersebut berkaitan dengan proses pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik di dalam sistem gunung api.

"Sehingga jenis kegempaan tersebut menunjukkan pergerakan atau perlepasan frida vulkanik dalam sistem gunung api," jelasnya.

Meski berbagai parameter menunjukkan adanya aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, Lana menegaskan bahwa waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya belum dapat dipastikan secara tepat.

"Meskipun demikian, waktu besar dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat, karena itu evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan," pungkas Lana.

Baca Juga: 4 Cara Aman Hadapi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menurut Dokter Tirta