Budaya kerja keras atau hustle culture semakin melekat dalam kehidupan modern. Banyak orang merasa harus selalu produktif, bekerja lebih lama, bahkan mengubah hobi menjadi sumber penghasilan agar dianggap sukses.

Akibatnya, beristirahat pun kerap memunculkan rasa bersalah karena dinilai sebagai bentuk kemalasan.

Padahal, tidak semua orang sepakat dengan pandangan tersebut. Sejumlah penulis justru mengajak pembaca melihat kembali hubungan antara pekerjaan, produktivitas, dan kualitas hidup.

Mereka mempertanyakan apakah nilai seseorang benar-benar harus diukur dari seberapa sibuk dan produktif dirinya.

Tidak bertujuan mendorong kemalasan, buku-buku ini menawarkan sudut pandang baru tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup, menghargai waktu istirahat, dan menemukan makna di luar pekerjaan.

Dan, dikutip dari Times Now News, Senin (29/6/2026), berikut 9 buku yang layak dibaca bagi Anda yang mulai lelah dengan budaya kerja keras tanpa henti.

1. The Burnout Society karya Byung-Chul Han

Jika Anda merasa kelelahan meski tidak ada yang memaksa bekerja, The Burnout Society menawarkan penjelasan yang menarik.

Filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han berpendapat bahwa kelelahan masa kini bukan lagi disebabkan oleh tekanan dari atasan atau sistem semata, melainkan dari dorongan internal untuk terus berprestasi, berkembang, dan selalu positif.

Han menunjukkan bagaimana kebebasan modern justru berubah menjadi bentuk eksploitasi diri. Kita menjadi bos sekaligus pekerja bagi diri sendiri, terus mengejar pencapaian tanpa henti hingga akhirnya mengalami burnout.

2. In Praise of Idleness karya Bertrand Russell

Ditulis pada 1930-an, In Praise of Idleness tetap terasa relevan hingga sekarang. Dalam esai klasik ini, filsuf Bertrand Russell menolak anggapan bahwa bekerja tanpa henti merupakan kebajikan.

Menurut Russell, waktu luang bukanlah kemewahan, melainkan syarat penting bagi lahirnya kreativitas, pemikiran kritis, dan kemajuan peradaban.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat yang terlalu memuja kerja berisiko kehilangan imajinasi dan kualitas hidup.

3. The Refusal of Work karya David Frayne

Melalui pendekatan sosiologis, David Frayne mengajak pembaca mempertanyakan mengapa pekerjaan menjadi pusat identitas manusia modern.

Ia meneliti orang-orang yang memilih meninggalkan pola kerja konvensional demi mencari kehidupan yang lebih bermakna.

Buku ini menunjukkan bahwa menolak budaya kerja yang melelahkan bukan berarti malas, melainkan bisa menjadi bentuk kritik terhadap sistem yang semakin mengikis kebebasan dan waktu pribadi.

Baca Juga: 5 Buku Pengembangan Diri Berbasis Psikologi Sejati, Bukan Sekadar Sains Populer