Dana tambahan dianggap sebagai uang bebas
Bonus, THR, atau penghasilan dari pekerjaan sampingan sering diperlakukan sebagai dana ekstra untuk dibelanjakan. Padahal, dana ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pencapaian tujuan finansial.
Mengalokasikannya ke tabungan atau deposito membantu melindungi uang dari pengeluaran impulsif.
Deposito juga berfungsi sebagai mekanisme “pengunci” dana dalam jangka waktu tertentu. Dengan pembukaan rekening digital yang praktis tanpa saldo minimum, serta suku bunga deposito yang kompetitif, Amar Bank menawarkan opsi yang relevan bagi Gen Z yang ingin mulai mengelola keuangan secara lebih terencana.
Baca Juga: 5 Pelajaran Keuangan Paling Berharga dari Buku Terlaris 'The Psychology of Money'
Belum memiliki dana darurat
Kondisi tak terduga seperti perangkat kerja rusak atau kebutuhan medis mendadak dapat menggagalkan seluruh rencana keuangan.
Dana darurat memberikan ruang aman agar tujuan jangka panjang tidak perlu dikorbankan.
Bagi yang masih ragu menentukan jumlah ideal dana darurat, fitur Saving Insight dari Amar Bank dapat membantu menghitung kebutuhan berdasarkan pemasukan dan pengeluaran masing-masing individu.
Menunda investasi karena merasa belum siap
Banyak Gen Z menunggu penghasilan besar atau kondisi finansial yang dianggap ideal sebelum mulai berinvestasi. Padahal, memulai dari nominal kecil jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
Alokasi sekitar 10 persen dari penghasilan, atau mulai dari Rp300.000–Rp500.000 per bulan, sudah cukup sebagai langkah awal yang dapat ditingkatkan seiring waktu.
Pada akhirnya, resolusi keuangan bukan tentang berubah drastis dalam waktu singkat, melainkan membangun sistem yang realistis dan berkelanjutan.
Menentukan prioritas, menggunakan target yang terukur, serta memanfaatkan pemisahan pos dan otomatisasi adalah kunci agar kebiasaan finansial dapat berjalan konsisten.
Dengan dukungan fitur-fitur di Amar Bank, niat baik tidak lagi berhenti sebagai wacana.
Jika resolusi keuangan sering gagal di tengah jalan, mungkin bukan soal kurangnya tekad, melainkan belum adanya sistem yang tepat. Kini saatnya menjadikan konsistensi sebagai kebiasaan, secara otomatis.