Lima tahun implementasi Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) menjadi momentum bagi kedua negara untuk melihat kembali perkembangan kerja sama perdagangan dan investasi, sekaligus menentukan langkah berikutnya.

Memasuki periode 2026-2030, hubungan ekonomi Indonesia dan Australia tak lagi hanya berbicara soal arus barang dan investasi. Kebutuhan tenaga kerja terampil, perkembangan teknologi, ekonomi digital, hingga transisi menuju ekonomi hijau menjadi sejumlah tantangan yang ikut menentukan arah kerja sama kedua negara.

Pembahasan mengenai hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Australia Update 2026 yang diselenggarakan Monash University, Indonesia bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra, Western Sydney University, dan Deakin–Lancaster University Indonesia.

Forum yang berlangsung di kampus Monash University, BSD City, pada 13 Oktober 2026 itu mengangkat tema “Five Years of IA-CEPA: Reviewing Progress and Optimising Performance for 2026–2030” dan mempertemukan sekitar 150 peserta dari kalangan pemerintah, diplomat, pelaku industri, akademisi, serta mahasiswa.

Bagi Growthmates, perkembangan ini menarik karena dampak kerja sama perdagangan antarnegara pada akhirnya tidak hanya terlihat dari angka ekspor-impor. Kebutuhan terhadap tenaga profesional dengan keterampilan baru juga ikut meningkat seiring perubahan dunia usaha.

IA-CEPA dan Tantangan Tenaga Kerja Masa Depan

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah peningkatan keterampilan atau upskilling tenaga kerja.

Pertumbuhan perdagangan dan investasi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri. Karena itu, mobilitas talenta antarnegara juga menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan kerja sama Indonesia-Australia.

Isu pergerakan perseorangan atau movement of natural persons turut menjadi pembahasan, termasuk kebutuhan tenaga profesional di sektor kesehatan, perawat, tenaga pengasuh, dan pekerja konstruksi.

Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital membuat kebutuhan terhadap keterampilan tenaga kerja ikut berubah. Tenaga profesional tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang.

Baca Juga: Monash University, Indonesia Sambut Angkatan Pertama Program Sarjana

Pro Vice-Chancellor and President (Interim) Monash University, Indonesia, Professor Claire Macken, menilai kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam memastikan kerja sama ekonomi dapat memberikan nilai tambah.

"Perjanjian seperti IA-CEPA menyediakan kerangka kerja yang penting, tetapi manusialah yang menciptakan nilai tambahnya. Kemajuan dalam transformasi digital, kecerdasan buatan, dan transisi hijau sepenuhnya bergantung pada tenaga profesional terampil yang mampu beradaptasi dan memimpin," kata Professor Macken.

Menurutnya, pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan lulusan yang mampu menghadapi perubahan tersebut.

Ekonomi Digital dan Transisi Hijau Jadi Perhatian

Perubahan menuju ekonomi digital dan ekonomi hijau juga menjadi bagian dari agenda kerja sama Indonesia-Australia hingga 2030.

Perdagangan digital membuka peluang baru bagi pelaku usaha, sementara transisi hijau mendorong kebutuhan terhadap teknologi dan keterampilan baru di berbagai sektor.

Kondisi tersebut membuat hubungan antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan vokasi, dan dunia industri menjadi semakin penting.

Kolaborasi antarlembaga diperlukan agar pendidikan dan pelatihan tenaga kerja tidak berjalan sendiri, melainkan mengikuti kebutuhan nyata dunia usaha dan perubahan teknologi.

Monash University, Indonesia, misalnya, menyoroti sejumlah kolaborasi yang dilakukan untuk mendukung pengembangan kapasitas nasional, termasuk riset terkait transisi energi bersama PLN serta pembelajaran lintas negara melalui jejaring Indo-Pasifik.

"Mulai dari riset kolaboratif terkait transisi energi bersama PLN hingga pembelajaran lintas negara dalam jejaring Indo-Pasifik kami, Monash berfokus menghadirkan dampak nyata untuk mendukung tercapainya visi Indonesia Emas 2045," ujar Professor Macken.

Baca Juga: Buka Klinik Baru di BSD, Morula Gandeng Monash University Bangun Registri Hasil IVF

Perdagangan Tumbuh, Kebutuhan Talenta Ikut Naik

Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia Siswo Pramono sebelumnya menekankan bahwa pertumbuhan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Australia perlu diikuti dengan kesiapan tenaga kerja.

"Seiring dengan bertumbuhnya perdagangan dan investasi antara kedua negara, kebutuhan akan tenaga kerja terampil pun terus meningkat," ujar Siswo.

Menurutnya, peningkatan keterampilan dan mobilitas talenta dapat menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan implementasi IA-CEPA untuk periode 2026-2030.

Dengan kata lain, keberhasilan IA-CEPA ke depan tidak hanya akan ditentukan oleh seberapa besar perdagangan kedua negara berkembang, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia dan Australia menyiapkan tenaga kerja yang dapat mengisi kebutuhan industri.

Baca Juga: Studi Monash University Bahas Upaya Penurunan Penyakit Malaria dan DBD

Apa yang Perlu Diperkuat hingga 2030?

Memasuki lima tahun berikutnya, terdapat sejumlah area yang perlu diperkuat dalam hubungan ekonomi Indonesia-Australia.

Pertama, peningkatan keterampilan tenaga kerja agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri. Kedua, penguatan mobilitas talenta untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi tenaga profesional.

Ketiga, kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan AI, digitalisasi, dan transisi hijau. Keempat, kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, pendidikan vokasi, dan dunia industri.

Agenda tersebut menunjukkan bahwa kerja sama perdagangan modern semakin erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia.

Australia Update 2026 menjadi salah satu ruang untuk membahas arah tersebut. Berbagai gagasan dan rekomendasi kebijakan yang muncul dari forum tersebut akan menjadi masukan dalam tinjauan umum IA-CEPA mendatang.

Pada akhirnya, lima tahun pertama IA-CEPA dapat menjadi pijakan untuk memasuki fase kerja sama berikutnya. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan hubungan perdagangan dan investasi, tetapi memastikan manfaatnya ikut dirasakan melalui penciptaan talenta, lapangan kerja, inovasi, dan kemampuan industri menghadapi perubahan ekonomi.

Bagi Growthmates, perubahan tersebut juga berarti peluang baru. Semakin banyak sektor yang bertransformasi karena teknologi, ekonomi digital, dan transisi hijau, semakin besar pula kebutuhan terhadap orang-orang dengan keterampilan yang relevan untuk mengisinya.