Suplemen kulit kini menjadi bagian dari gaya hidup modern. Ada yang merekomendasikan kapsul untuk kulit glowing, kulit bersih dalam 30 hari, dan masih banyak lagi.

Tanpa disadari, tak sedikit orang mengonsumsi dua hingga tiga jenis suplemen sekaligus, tanpa benar-benar memahami apakah tubuh mereka membutuhkannya.

Masalahnya, suplemen kulit bukan produk yang sepenuhnya aman, meskipun mudah dibeli tanpa resep. Banyak di antaranya dapat memengaruhi keseimbangan hormon, fungsi hati dan ginjal, sistem pencernaan, hingga mengganggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Dokter kulit di berbagai negara kerap menemukan kasus jerawat mendadak, rambut rontok, kelelahan, atau gangguan pencernaan yang ternyata dipicu oleh suplemen 'perawatan kulit' yang dikonsumsi tanpa pengawasan medis.

Dan dikutip dari Times of India, Jumat (9/1/2026), berikut 5 jenis suplemen kulit yang sebaiknya tidak Anda konsumsi sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter.

1. Vitamin A (Retinol Oral)

Vitamin A merupakan zat yang sangat kuat. Dalam praktik dermatologi, vitamin ini digunakan untuk menangani jerawat berat atau kondisi kulit tertentu, namun selalu dengan dosis terkontrol dan durasi terbatas.

Masalah muncul ketika vitamin A dikonsumsi secara mandiri hanya karena dianggap 'baik untuk kulit'. Banyak produk suplemen mengandung dosis tinggi yang, jika dikonsumsi terus-menerus, dapat menyebabkan toksisitas vitamin A.

Adapun, efek samping yang sering dilaporkan meliputi rambut rontok yang terjadi secara mendadak, bibir yang menjadi sangat kering dan mudah pecah-pecah, serta kulit yang mengelupas secara berlebihan. Selain itu, sebagian orang juga mengalami sakit kepala disertai pusing, hingga gangguan pada fungsi hati apabila dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau dalam dosis tinggi.

Bagi perempuan, risiko ini lebih serius karena kelebihan vitamin A tidak aman selama kehamilan dan dapat meningkatkan risiko cacat lahir. Oleh sebab itu, konsumsi retinol oral seharusnya selalu berada di bawah pengawasan dokter, terutama jika seseorang juga menggunakan produk perawatan kulit berbasis retinoid.

2. Suplemen Biotin

Biotin dikenal luas sebagai 'vitamin rambut dan kulit' dan sering dikonsumsi untuk mengatasi rambut rontok, kuku rapuh, atau kulit kusam. Namun, kekurangan biotin yang benar-benar signifikan tergolong jarang pada populasi umum.

Sebagian besar orang sudah mendapatkan biotin yang cukup dari makanan sehari-hari. Masalahnya, banyak suplemen mengandung dosis biotin yang sangat tinggi, jauh melampaui kebutuhan tubuh.

Dampak yang kini semakin sering diamati oleh dokter mencakup jerawat yang semakin memburuk, terutama di area rahang dan pipi, kulit yang menjadi lebih berminyak dari biasanya, serta hasil pemeriksaan darah yang tidak akurat akibat terganggunya proses analisis laboratorium.

Biotin dosis tinggi diketahui dapat mengganggu berbagai pemeriksaan laboratorium, termasuk tes hormon, tiroid, dan fungsi jantung. Akibatnya, kondisi medis yang seharusnya terdeteksi justru bisa terlewatkan.

Baca Juga: 5 Suplemen Terbaik untuk Kesehatan Otak versi Rekomendasi Dokter, Apa Saja?