3. Bubuk dan Pil Kolagen

Kolagen dipasarkan sebagai kunci kulit awet muda dan bebas kerutan. Banyak orang menambahkannya ke dalam kopi, smoothie, atau minuman pagi mereka dengan harapan mendapatkan kulit yang lebih kencang dan sehat.

Namun, secara biologis, kolagen tidak bekerja secara spesifik pada kulit wajah. Setelah dikonsumsi, kolagen akan dipecah menjadi asam amino yang kemudian digunakan tubuh sesuai kebutuhannya.

Beberapa penelitian memang menunjukkan perbaikan ringan pada hidrasi kulit, tetapi hasilnya tidak konsisten dan sangat bergantung pada kondisi individu.

Selain itu, kualitas suplemen kolagen sangat bervariasi. Produk yang tidak terkontrol dengan baik berpotensi mengandung kontaminan tertentu, memiliki kandungan mineral yang berlebihan, serta memberi beban tambahan pada ginjal jika dikonsumsi tanpa kebutuhan yang jelas.

Jika asupan protein harian sebenarnya sudah tercukupi dari makanan, tambahan kolagen belum tentu memberikan manfaat ekstra bagi kesehatan kulit.

4. Glutathione (Oral dan Injeksi)

Glutathione kerap dipromosikan sebagai suplemen 'pencerah kulit'. Namun, bukti ilmiah mengenai efektivitas glutathione oral masih terbatas, sementara penggunaan glutathione injeksi membawa risiko yang tidak bisa diabaikan.

Beberapa risiko yang menjadi perhatian medis mencakup beban berlebih pada hati dan ginjal, gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh, serta meningkatnya risiko infeksi akibat prosedur suntik yang tidak aman.

Selain itu, hingga kini masih terdapat kekhawatiran mengenai efek jangka panjang yang belum sepenuhnya dipahami secara ilmiah.

Masalah pigmentasi kulit pada umumnya lebih berkaitan dengan paparan sinar matahari, faktor hormonal, peradangan, atau kondisi medis tertentu.

Tidak ada suplemen yang dapat menggantikan perlindungan dari sinar UV, perawatan kulit yang tepat, dan gaya hidup sehat.

5. ZincĀ 

Zinc berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh, penyembuhan luka, dan keseimbangan hormon. Kekurangan zinc dapat memicu jerawat yang sulit sembuh atau gangguan regenerasi kulit.

Meski demikian, konsumsi zinc berlebihan juga tidak dianjurkan. Banyak orang sebenarnya dapat memenuhi kebutuhan zinc melalui pola makan seimbang, seperti dari biji-bijian, kacang-kacangan, dan sumber protein hewani maupun nabati.

Pendekatan terbaik adalah memastikan asupan zinc yang cukup dari makanan terlebih dahulu, dan hanya mempertimbangkan suplemen jika terdapat indikasi medis yang jelas.

Baca Juga: Neuroscientist Ungkap 5 Suplemen Anti-Penuaan Terbaik, Apa Saja?